SC Office : Jln.Pampang I, No.23C, Makassar - Sulawesi Selatan. Mobile : 081341640799. FB : Sulawesi Channel. Email : sulawesichannelnews@yahoo.co.id.

Jumat, 12 Februari 2010

Paria Kambu

Kendari, (KB-SC)
BAHAN;2 buah pare/paria
 100 gr daging giling
½ butir kelapa parut disangrai lalu dihaluskan
BUMBU;2 siumg bawang putih
 3 biji bawang putih.
Garam,merica,royco rasa sapi,bumbu penyedap(jika perlu)
CARA MENGOLAH; -pare dibersihkan lalu dipotong 5(sesuai selerah)
             -kukus sebentar .asal layu
             -Tumis bawang merah,bwng putih,masukkan daging giling +royco dan semua     
Bumbu lalu masukkan kelapa goring
             -setelah semua matang,masukkan kedalam pare.
             -Pare di kukus kembali agar lbh matang.
KUA ;BUMBU;2 siung b putih,2biji b.merah.2 biji tomat,1 btng srey.1/2 butir santan.garam,bumbu penyedap.
CARA MENGOLAH;
          -Tumis b.merah,b.putih
-    Tambahkan tomat dan dan srey yg telah dimemarkan
-    Turunkan santan,lalu masuk sampai kental.
KUA DISIRAMKAN DIATAS PARE YG SUDAH MATANG TADI (nining)

Rapat Pra Rakerda Panitia Muktamar NU

Persiapan Muktamar Nahdatul Ulama (NU) ke-32 yang dipusatkan di Asrama Haji, Sudiang, Kota Makassar, Sulawesi, terus berbenah. Rapat pemantapan bagi tim panitia pelaksana ini kembali di gelar di Gedung NU, Jln Perintis Kemerdekaan, Makassar, tanggal 3 Januari 2010.

Dalam pengarahannya, Sekretaris Panitia Daerah, Drs.KH.Zein Irwanto mengungkapkan,  untuk rapat kali pihak, akan dibahas beberapa tema, diantaranya adalah Rakerda Panitia Daerah, temu ulama dan tokoh, serta bakti social dengan aksi penanaman pohon di seputar wilayah atau lokasi muktamar.

“Beberapa waktu lalu, kami sudah rapat bersama dengan pemerintah propinsi yang dipimpin langsung sendiri ole gubernur. Gubernur dalam keterangannya bahwa rencana ini telah mendapat respon dari seluruh SKPD,” jelas Kiyai Zein.

Menurutnya, olehnya itu SKPD meminta agar secepatnya menrancang tema-tema local dan tema nasional yang kemudian akan connectingnya dengan sejumlah program mereka.

“Gubernur juga berjanji akan menyurati semua bupati-bupati dalam rangka mempersiapkan pelaksanaan muktamar,” kuncinya.

Sementara Ketua Panitia Daerah, Mukhtar Noer Jaya, menambahkan, akhir-akhir ini komunikasi antar pihak, utamanya antara panitia daerah dan panitia nasional semakin diintensifkan.

“Saya baru berkoordinasi dengan ketua panitia pusat dan sekretris panitia nasional dengan kesiapan yang semakin berkembang di panitia daerah,” lanjutnya.
Menurutnya, setiap seksi saat ini sudah harus mendapatkan dana talangan(dp) untuk memperlancar kegiatannya di masing-masing seksinya.

Hal ini dilakukan, katanya, karena ada beberapa pengelola penginapan dan jasa transportasi telah meminta sekedar uang tanda jadi.

“Kami juga sudah berkoordinasi dengan pengelola taksi, dan nanti dalam acara intinya, harus tersedianya sedikitnya 50-an unit taksi sudah standy by di bandara,” kuncinya.

Pada kesempatan itu, sejumlah coordinator seksi juga telah melaporkan kemajuan-kemajuan program yang telah mereka lakukan. Memang saat ini yang paling sibuk adalah persoalan akomodasi dan transportasi, karena peserta resmi atau undangan yang ditaksir sekitar 4.000 orang itu, akan menempati sejumlah hotel, wisma dan penginapan lainnya di seluruh kota Makassar.

Malah satu pekan sebelum acara inti yang digelar tanggal 23 – 28 Maret 2010 ini, lalu transportasi udara, pesawat, sudah pasti didominasi peserta muktamar. “setiap kali penerbangan menuju Makassar dari berbagai propinsi di Indonesia akan didominasi, sekitar 70 persen, peserta muktamar,” kunci Mukhtar Noer Jaya. (sultan darampa)

Selasa, 02 Februari 2010

Naskah Buton, Peninggalan Sejarah yang Mulai Hilang

Sejak dahulu kala, kesutanan Buton memang sudah terkenal dimana-mana, kebudayaannya yang  tinggi masih terlihat hingga saat ini. Salah satu bukti peninggalan kebudayaan Buton yang masih ada hingga saat ini adalah naskah-naskah kuno.

Naskah-naskah kuno tersebut masih tersimpan di dalam keraton Buton yang dijaga oleh keturunan kesultanan Buton secara turun temurun. Akan tetapi dalam perjalanannya ada juga naskah kuno yang hilang tanpa diketahui keberadaannya.

Dalam naskah kuno tersebut berbagai infrormasi mengenai kebesaran dan kejayaan kesultanan Buton pada masa lampau seperti, hukum adat, kebudayaan, pemerintahan, tokoh-tokoh intelektual, hubungan dengan bangsa-bangsa lain di dunia ,sejarah Buton dimasa lampau termasuk berbagai aspek kehidupan lainnya yang terekam dalam naskah-naskah tersebut.

Menurut  Ketua Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manasa) Sultra Prof. Dr. La Niampe, M.Hum bahwa naskah-naskah kuno dapat dipandang sebagai alat komunikasi yang hidup yang dapat menghubungkan antara kehidupan masa lampau dan masa sekarang serta masa yang akan datang.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh para ahli sejarah, naskah-naskah Buton ditulis dalam berbagai bahasa (Arab, Melayu dan Wolio), namun ada juga yang ditulis dengan menggunakan kombinasi Arab-Melayu (Jawi) dan Arab Wolio atau dalam bahasa Buton di sebut Buri Wolio.

Para penulis atau pengarang naskah kuno ini adalah para tokoh intelektual Buton pada zamannya, diantaranya adalah, Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin Ibnu Badaruddin Al-Buthuni, Syeikh Haji Abdul Gani bin Abdullah Al-Buthuni, Abdul Khalik Maa Saadi Al-Buthuni, Haji Abdul Rahim bin Muhammad Idrus Kaimuddin Al Buthuni, La Kobu, Wa Ode Samarati dan Haji Abdul Hadi.

Selengkapnya baca ProFiles. (sultan darampa)

Laman, Rela Kehilangan Kalpataru Demi Rimba Puaka

Butiran peluh menitik di dahi, pipi dan dagu Patih Laman (89) saat lelaki renta itu menyongsong kami yang datang menemuinya dikediamannya di Desa Sungai Ekok, Kecamatan Rakit Kulim, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau, Ahad (17/1).

Ia tinggalkan pekerjaannya, mengikis sebatang kayu untuk penyangga tiang rumah panggungnya yang telah lapuk.

"Silakan naik. Jauh perjalanan, jalan pun tak bagus maklum hujan," kata tokoh masyarakat Talang Mamak itu sambil menaiki tangga rumahnya yang terbuat dari tujuh batang kayu bulat sekepal tangan orang dewasa yang disusun berjejer dan diikat dengan rotan pada tiga batang kayu yang
disandarkan pada selasar rumahnya.

Rumah panggung yang lazim disebut sebagai "rumah besar" yang dihuninya bersama seorang anak dan menantunya serta tiga cucunya itu terlihat tidak terurus. Tidak ada sekat dinding ruangan atau bilik di rumah besar  itu yang memisahkan "haluan" (ruangan tamu), tongah (ruangan keluarga)dan ruang perempuan (dapur).

Batas ruangan dirumah tersebut hanyalah bandul (tunggul kayu dilantai) yang membagikan haluan, tongah dan ruang perempuan, seperti umumnya rumah Talang Mamak yang lainnya.

Saat memasuki rumah besar itu, mata akan langsung tertuju pada onggokan tikar pandan, tilam dan bantal lusuh serta kelambu yang juga sama tuanya dengan siempunya lapak tidur itu.

Satu-satunya barang peradaban modren yang dimilikinya hanyalah satu unit televisi 21 inci lengkap dengan receiver parabola yang ditempatkan diatas kotak kayu tua. Pada dinding rumahnya terpampang beberapa bingkai foto yang telah kusam karena jelaga.

Pada salah satu foto terlihat saat Patih Laman menerima Kalpataru, penghargaan tertinggi dibidang lingkungan, dari Presiden Megawati pada 2003. Selain itu ada juga foto saat dia menerima WWF Award pada 1999 di Kinibalu, Malaysia.

"Mereka memberi saya penghargaan karena menjaga hutan, tapi kini hutan kami dah tak ada, ditebang habis dengan seizin pemerintah. Apa gunanya saya dapat Kalpataru lebih baik dikembalikan saja," ujar Laman.

Ia mengambil sesuatu di sudut lapak tidurnya. Benda yang dibungkus dengan kain itu diperlihatkan rupanya kotak kaca yang didalamnya terdapat sebuah benda dari pahatan perunggu berbentuk akar.

"Saya mendapatkan Kalpataru ini dari pemerintah karena dinilai berjasa menjaga hutan. Benda ini mau saya kembalikan agar pemerintah mau mengembalikan hutan kami," ujar Laman.

Lelaki berkulit putih berperawakan kecil yang selalu memakai ikat kepala menutupi rambut putihnya yang panjang itu mengaku sangat terpukul dantidak bisa berbuat apa-apa karena hutan Penyabungan dan Panguanan yang dikenal masyarakat Talang mamak secara turun temurun sebagai Tanah Keramat Rimba Puaka telah lenyap, ditebang habis perusahaan perkebunan
dan masyarakat pendatang.

Hutan seluas 1.813 hektare itu dulunya merupakan satu-satunya hamparan hutan yang masih lengkap di kawasan pemukiman suku Talang Mamak, suku asli Riau. Kawasan hutan Penyabungan dan Penguanan yang berada di Desa Sungai Ekok, Kecamatan Rakit Kulim itu dijadikan sebagai salah satu Tanah Keramat Rimba Puaka yang merupakan hutan adat.

Di kawasan lingkungan tempat tinggal Talang Mamak yang tersebar di Kecamatan Rakit Kulim, Batang Cinaku, Kelayang dan Peranap, sebetulnya terdapat empat kawasan hutan yang telah ditetapkan masyarakat asli itu sebagai hutan adat selain Penyabungan dan Penguanan juga hutan Sungai Tunu seluas 104,933 hektare, hutan Durian Jajar seluas 98.577 hektare dan hutan Kelumbuk Tinggi Baner 21.901 hektare.

Kehilangan Hutan Adat
Dari empat kawasan Tanah Keramat Rimba Puaka itu hingga tahun akhir tahun 1990-an hanyalah kawasan Tanah Keramat Rimba Puaka di Desa Sungai Ekok yang masih utuh dan menjadi sumber ekonomi masyarakat setempat, sedangkan tiga kawasan hutan lainnya telah beralih fungsi menjadi kebun sawit milik perusahaan besar dan masyarakat pendatang.

Kawasan Tanah Keramat Rimba Puaka itu berfungsi tidak hanya sebagai sumber ekonomi masyarakat Talang Mamak tetapi juga untuk melindungi makam dan tempat-tempat keramat suku asli tersebut.

Selain itu kawasan hutan adat itu juga berfungsi sebagai sumber tanaman obat dan sumber bibit tanaman masyarakat.

Walau keempat kawasan Tanah Keramat Rimba Puaka itu telah ada ketetapan dari pemerintah daerah sebagai hutan adat dan tercantum dalam tata ruang daerah Indragiri Hulu, namun eksploitasi dan alih fungsi hutan tersebut oleh perusahaan besar tetap diizinkan oleh pemerintah daerah.

Akibatnya, masyarakat Talang Mamak tidak lagi memiliki hutan yang merupakan bagian dari kehidupan sosial budaya mereka. "Jadi apa gunanya saya memiliki Kalpataru ini? Hutan kami hanya tinggal sejengkal" keluh Laman.

Pemimpin masyarakat Talang Mamak yang bergelar Patih itu telah patah arang memperjuangkan Rimba Puaka Penyabungan dan Panguanan. Saat alat berat perusahaan meluluhlantakkan hutan yang selama ini menjadi tumpuan hidup masyarakatnya pada November lalu, Laman seorang diri berusaha bertahan menentang ulah perusahaan itu, bahkan ia mendirikan pondok di kawasan hutan tersebut.

Walau nyawanya diancam, namun Laman tak bergeming, alhasil hanya empat hektare hutan yang tersisa itupun hanya dilokasi pondok yang didirikan Laman.

Akibat siang malam berjaga di hutan tersebut, kondisi fisik ayah enam anak itu makin ringkih bahkan ia jatuh sakit.

Sebelumnya dia telah berjuang mempertahankan Rimba Puaka itu ke pemerintah daerah Indragiri Hulu dan Provinsi Riau, namun hingga hutan itu gundul tidak ada penyelesaian dari pihak pemerintah.

Padahal, itulah kawasan hutan terakhir yang menjadi benteng alam bagi Laman dan warganya. Ia tidak berdaya menghadapi penguasa dan pengusaha. Upaya sia-sia Laman dalam memperjuangkan hutan tersebut hingga kini masih tergurat jelaspada wajah letihnya.

"Biarlah saya kembalikan penghargaan ini pada pemerintah agar pemerintah mengembalikan pula hutan kami," lirihnya sambil membungkus kembali pialaKalpataru dengan kain sarung berwana hijau.

Benda yang dinilainya amat berharga dan mengangkat gengsi bagi pemiliknya serta menjadi kebanggaan daerah itu disimpannya kembali di salah satu sudut lapak tidurnya. (Evy R. Syamsir/ hayati)

Rabu, 27 Januari 2010

Kerajinan Kebanjiran Order


Kendari (KBSC)
Pengrajin tenunan khas Sultra ini menggeluti usahanya secara turun menurun. Namun berkat keuletannya, kini usahanya berkembang pesat. Bahkan telah dipasarkan keberbagai provinisi di Indonesia, omsenyapun ratusan juta rupiah.

“Usaha ini kami geluti secara turun temurun, mulai dari kakek saya. Dulu nama usahanya Sutra Indah, lalu ayah saya dengan nama Sutra Alam. Kini saya memakai nama Sutra Adat,” terang Nasrullah kepada Profiles di Kendari belum lama ini.

Pria kelahiran Sidrap, Sulsel, 29 September 1967 yang menetap di Kabupaten Konawe sejak tahun 1990 ini mengaku memulai usahanya dari nol. Bahkan alat tenun bukan mesin (ATBM) pertama yang dimiliki adalah bantuan Bank Desa. Kemudian dikembangkan dengan membeli peralatan ATBM yang memiliki sambungan tengah yang berfungsi untuk menjahit bagian tengah.
“Berkat pembinaan yang terus menerus dari Dekranasda dan Koperasi, kami mampu menambah peralatan lagi yang lebih besar,” ujarnya.

Diakui Nasrullah, pembinaan yang dilakukan Dekranasda  sangat bermanfaat. Khususnya ketika melakukan studi banding ke sentra industri pertenunan. Dari studi banding ini, para pengrajin mendapat banyak pengetahuan yang dapat diaplikasikan pada usaha tenun yang mereka kerjakan.

“Apa yang dilakukan oleh Ketua Dekranas Sultra sangat bermanfaat untuk perbaikan mutu tenunan yang kami kerjakan. Tak hanya itu, dekranas juga selalu mengundang desainer untuk mengajari para pengrajin. Mulai dari pemilihan benang, perwarnaan hingga cara menyikapi tren pasar. Kami juga diwajibkan mengikuti pameran dan studi banding untuk melihat berbagai modifikasi tenun yang cantik, elegan untuk kami kembangkan juga di Sultra,” tuturnya.

Soal pemasaran, Nasrullah mengaku awalnya kesulitan, namun berkat campur tangan Dekranas yang mampu membuat terobosan baru melalui jalur promosi, kesulitan dalam pemasaran berangsur bisa teratasi. Buktinya, pesanan dari luar Sultra mulai mengalir.

“Alhamdulillah, saat ini jumlah karyawan kami sudah 50 orang. Peralatan tenun juga bertambah menjadi 50 alat. Dulu hanya saya dan istri yang menenun dari pagi hingga sore dan malam hari, produksinya pun terbatas. Sekarang kami mampu memproduksi 300-4000 lembar untuk memenuhi permintaan dari berbagai provinsi,“ beber pria yang tulus membagikan pengetahuan tenun yang dimilikinya kepada siapapun yang ingin belajar.

Permintaan tenunan Sultra yang terbesar saat ini masih didominasi pulau Sumatera, khususnya Riau dan Jambi. Kebetulan  pakaian di sana mirip yang  buat di Sultra, namanya songket. Mereka sangat suka, karena tenunan Sultra memiliki kombinasi warna yang sangat elok. Karena itu mereka kebanyakan memakainya, baik saat ke pesta. Bahkan pakaian kantor pun mereka minta dibuatkan dari pengrajin di Sultra.

Suami Hj Berliang ini mengaku  pendapatannya dalam seminggu  bisa mencapai Rp 20 juta atau kurang lebih Rp 100 juta per bulan. Wajar saja, karena usaha yang digelutinya kebanjiran order. Saat ini usahanya menerima banyak pesanan, khusus pembuatan baju khas Tolaki, dan Bombana  untuk pakaian kantor PNS, kurang lebih 20.000 – 25.000 pesanan, dengan harga antara Rp 150.000 hingga Rp 200.000.

“Terimakasih Dinas Perindustrian dan Koperasi yang selalu mengajak kami ikut pameran. Terimakasih juga kepada Dekranasda Sultra dalam hal ini Ibu Tina Nur Alam yang tidak henti-hentinya memikirkan pemasaran produk tenun khas sultra sehingga produk kami bisa ikut pameran di Belanda dan Perancis. Kami bangga dengan Ibu Tina Asnawati, Maju terus berkarya demi Sulawesi Tenggara,” tutur Nasrullah menahan haru atas sukses yang diraihnya saat ini. (nining)
Terbitkan Entri

Selamat Para Penelapak


Bogor (KBSC)
Alhamdulillah, akhirnya pada hari "H" ulang tahun Telapak ke-13 dihadiri lebih dari 30 orang anggota, kader dan sahabat Telapak. Bertempat di rumah Sdr. Budi Hartono di kaki Gunung Salak, kumpul2 Ultah Telapak ini diawali dengan sambutan dari saya sebagai ketua Badan Teritori Telapak di Jawa Bagian Barat yang berterimakasih pada Budi Hartono yang telah rela ketempatan acara ini meskipun sdg punya bayi baru dan terimakasih kepada seluruh Telapakers yg hadir juga para kader dan sahabat Telapak terutama bapak-bapak yang datang dari kampung Tapos.

Sambutan dilanjutkan oleh Pak Presiden Telapak Ruwi yang menekankan pentingnya acara-acara kumpul ini agar Telapak semakin solid dan berkarya lebih baik di tahun ini. Selanjutnya Hapsoro menceritakan perjalanan napak tilasnya bersama Ruwi, Ejon, Hendaru, dan Alex yang telah berhasil berjalan dari Telapak Pajajaran-Sempur- Yasmin-Cibanteng -Ciapus sejauh 45km.

Setelah itu barulah dilakukan pemotongan tumpeng yang dilakukan oleh Hapsoro sebagai pemilik nomer anggota terkecil yang hadir dan diserahkan kepada Alex sebagai anggota pemilik nomer anggota terbesar yang hadir.

Acara dilanjutkan dengan foto bersama di dam sungai Ciapus di sebelah rumah Budi, foto yang terlihat diatas ini diambil oleh Ejhon (makasih Jhon) dengan menggunakan kamera Ghonjess (makasih Jess). Lalu semuanya kembali lagi ke rumah Budi dan dilanjutkan dengan pembacaan do'a yang sangat istimewa oleh Sdri. Rita Mustikasari (katanya inilah pertama kali dia pimpin do'a).

Acara yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga yaitu makan tumpeng bersama-sama, sambil diiringi gitar Rendro menyanyikan lagu-lagu tahun 80-an. Diakhir acara dilakukan launching "Kota Hujan .com" sebagai portal ASTEKI. Acara akhirnya ditutup dengan pesta durian yang alhamdulillah enak semuanya.

Terasa sekali atmosfir kekeluargaan yang hangat diantara para Telapakers dan simpatisan. Mudah-mudahan tahun 2010 ini lebih baik dari tahun sebelumnya, dan ikatan kekeluargaan Telapak semakin kuat. Amin

Sampai bertemu di pertemuan Mubes Telapak 2010 bulan depan. (mahir)

Citra Tenun Sultra Go Internasional


ProFiles -
Ketertarikannya pada kain tenunan khas masyarakat Sulawesi Tenggara boleh dibilang tanpa batas. Tak heran, jika Dra Hj Tina Asnawati Nur Alam begitu getol mengangkat citra tenunan khas daerahnya agar setara dengan produk kain yang ada sekarang ini. Dan jalan untuk mewujudkan tekadnya itu pun semakin terbuka lebar, ketika  istri tercinta Nur Alam, gubernur Sultra ini dilantik menjadi Ketua Dekranasda Provinsi Sultra, 18 Februari 2008 lalu.

“ Kalau melihat keadaan di kampung sendiri, orang-orang merasa aneh jika kita memakai tenunan. Malah ada yang menyebut norak, kuno dan kampungan lantaran tenunan khas daerah ini didominasi warna-warna menyala dan penuh benang yang mengkilap. Tununan ini hanya dipakai orang-orang tua saat ke pesta perkawinan atau pesta adat lainnya,” ungkap Ibu Tina kepada Profiles di Kendari, awal Desember 2009.

Mengubah persepsi yang kurang baik ini, diakui Ibu Tina memerlukan proses. Tetapi dia yakin, suatu saat masyarakat Sultra akan bangga memakai tunan khas daerahnya. Dan langkah strategis untuk mengangkat citra tenunan khas Sultra pun dilakukan melalui wadah Dekranasda yang dipimpinnya.

“ Saat melihat berbagai motif tenunan khas Sultra yang sangat beragam, muncul ide saya untuk mulai membuka jaringan. Mulai dari kerja sama dengan Cita Tenun Indonesia (CTI diketuai Okke Hatta Rajasa hingga menjalin kerja sama dengan berbagai pihak,termasuk para designer yang konsen pada busana bernuansa etnik,” tuturnya.

Selengkapnya baca ProFiles Edisi Januari 2010. (nining)