SC Office : Jln.Pampang I, No.23C, Makassar - Sulawesi Selatan. Mobile : 081341640799. FB : Sulawesi Channel. Email : sulawesichannelnews@yahoo.co.id.

Selasa, 27 Juli 2010

Istiadat Buton Masuk Muatan Lokal

Budaya Buton akan dimasukkan salah satu mata pelajaran muatan local (mulok), dengan tujuan untuk melestarikan budaya buton dari generasi kegenerasi.

“Budaya Buton akan dipelajari siswa melalui mulok, komitmen ini bagaian dari upaya menjadikan Buton sebagai kawasan bisnis dan budaya terdepan,” kata Bupati Buton, LM. Sjafei Kahar kepada media Sultra saat berkunjung dikantor Badan Infokom, PDE Arsip, senin (1/2).

Menurut Sjafei, masuknya budaya buton diharapkan Buton akan semakin mengetahui budayanya sendiri sehingga berimplikasi pada kecintaan mereka pada budaya Buton.

Hal yang sama dikatakan Kepala Badan Infokom Kabupaten Buton, La Halimu. Ia mengatakan bersamaan dengan peresmian Perpustakaan Umum Kabupaten Buton.

Bupati Buton, akan membahas buku budaya Buton secara panelis bersama Kepala Badan Litbang Buton, Lutfi Hasmar, La Ode Abdul Hukum,S.Ip, anggota DPRD Kabupaten Buton.

Rektor UMB Syarifuddin Bone, dan Camat Pasar Wajo Agus Feisal Hidayat,S.Sos, MS, serta dua anggota DPRD Kota Baubau masing – masing Ruslan dan La Ode Abdul Munafi.

Bupati Buton akan membahas buku Syair Ajonga Inda Malusa, Lutfi Hasmar membahas Hikayat Negeri Buton, La Ode Abdul Hukum membahas Silsilah Bangsawan Buton.

Syarifuddin Bone, Agus Feisal Hidayat, Ruslan, La Ode Abdul Munafi, masing – masing membahas Nasihat Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin Ibnu Badaruddin Al Buthuni, Nasihat Syekh H. Abdul Gani Al – Buthuni.

“Undang – undang Buton versi Muhammad Isa dan Undang – undang Buton Versi Muhammad Idrus Kaimuddin,” kata La Halimu.

Semua buku yang memuat tentang Budaya Buton tersebut merupakan Karya Prof Dr La Niampe, M.Hum Dosen Unhalu yang sangat peduli dan konsen meneliti naskah – naskah budaya Buton. (ms)

Pariwisata Kendari Terus Menggeliat

Kinerja Pemerintah Kota Kendari untuk melestarikan budaya serta mempromosikan pariwisata yang ada di Kota Kendari kepada masyarakat luas selama tahun 2009 lalu patut diacungi jempol, berbagai kegiatan untuk melestarikan seni budaya serta mempromosikan potensi pariwisata telah berhasil dilakukan dan menuai apresiasi positif dari masyarakat, misalnya festival Teluk Kendari dan pemilihan Luale Anandonia atau pemilihan Putra Putri Pariwisata Kota Kendari yang banyak menarik perhatian masyarakat.

Prestasi gemilang ini terwujud atas kerja keras jajaran Dinas Pariwisata Kota Kendari utamanya pada Bidang Seni Budaya yang saat ini dibawah kendali Anna Susanti.

Untuk menuai prestasi yang sama pada tahun 2009 lalu, tahun ini Dinas Pariwisata Kota Kendari mengagendakan berbagai kegiatan yang tujuannya untuk melestarikan seni dan budaya daerah serta mempromosikan potensi pariwisata daerah. Kegiatan itu diantaranya festival Teluk Kendari, yang sudah diagendakan menjadi kegiatan tahunan termasuk pemilihan Luale Anandonia.

“Lomba Luale Anandonia ini diadakan untuk mencari para pemuda dan pemudi yang ada di kota Kendari agar bisa memahami budaya dan potensi pariwisata daerahnya, apalagi saat ini sudah banyak generasi muda yang mulai lupa akan budaya sendiri, sehingga perlu terus di lestarikan, mengingat potensi budaya yang ada di kota Kendari sangat beragam dan disayangkan apabila hilang di telan zaman.” Tutur Anna Susanti.

Rencananya pelaksanaan pemilihan Luale Anandonia ini akan dilakukan pada bulan Mei mendatang. Jika dilihat dari tahun-tahun sebelumnya, antusuaisme para pemuda dan pemudi untuk mengikuti kegiatan ini cukup tinggi. Pada tahun ini Dinas Pariwisata Kota Kendari optimis kegiatan ini akan lebih banyak diikuti oleh masyarakat.

Selain kegiatan tersebut, Dinas Pariwisata Kota Kendari juga akan menggelar Festival Tari Garapan yang rencananya akan digelar bertepatan dengan hari ulang tahun kota Kendari yang jatuh pada tanggal 9 Mei mendatang. Festival Tari Garapan sendiri merupakan sebuah kegiatan yang menampilkan penggabungan berbagai seni dan kreasi tari dari seluruh etnis yang ada di kota Kendari seperti etnit Tolaki, Muna, Buton dan Bugis.

Dalam festival ini akan memperebutkan piala Walikota Kendari. “tujuan utama dari kegiatan Festival Tari Garapan ini adalah untuk lebih memperkenalkan keragaman budaya dan adat istiadat yang ada di kota Kendari, sehingga masyarakat lebih mengetahui jika di kota Kendari terdapat berbagai suku dan budaya yang ada sejak puluhan tahun silam.” Ungkap Anna Susanti.

Anna Susanti juga mengungkapkan untuk menyemarakkan perayaan Hari Kemerdakaan Republik Indonesia pada bulan Agustus mendatang, akan dilombakan berbagai kegiatan budaya, seperti lomba lagu daerah, lomba busana daerah, lomba masakan tradisional dan pameran budaya.

Selain kaya akan ragam budaya dan adat istiadat, kota Kendari juga mempunyai potensi pariwisata yang sangat memadai, seperti wisata pulau, pantai maupun agro wisata termasuk akomodasi pariwisata dan souvenir. Secara garis besar potensi pariwisata yang ada di kota Kendari adalah Pulau Bungkutoko, Pantai Purirano, Pantai Nambo, Pantai Mayaria, Air Terjun Lahundape, Terowongan Jepang dan Makam Raja Sao-sao. Di kota kendari juga terdapat pusat kerajinan gambol dan perak yang sudah terkenal hingga ke manca negara.

Kerajinan perak di kota Kendari terkenal akan keindahan dan kehalusannya, bahkan desain perak yang dibuat bukan dalam bentuk bertentuk perhiasan saja tetapi sudah di buat dalam bentuk yang besar seperti perahu ataupun patung.

Salah satu Potensi pariwisata yang cukup terkenal dan menjadi ikon kota kendari adalah Pantai Kendari atau Kendari Beach, pantai ini terletak di pusat kota sehingga sangat mudah di jangkau. Hampir setiap hari dipadati oleh para pengungjung, bagi para remaja hingga orang tua. Dipantai ini tersedia berbagai aneka masakan yang dijual sepanjang jalan Pantai Kendari.

Anna Susanti menargetkan, pada tahun 2010 ini budaya dan pariwisata yang ada di kota Kendari akan lebih dikenal dimasyarkat luas, sehingga kota Kendari bisa menjadi tujuan wisata, baik wisatawan domestic maupun wisatawan mancanegara.

Naskah Buton, Peninggalan Sejarah yang Mulai Hilang

Bau-Bau, (KBSC)
Sejak dahulu kala, Kesultanan Buton memang sudah terkenal dimana-mana, kebudayaannya yang  tinggi masih terlihat hingga saat ini. Salah satu bukti peninggalan kebudayaan Buton yang masih ada hingga saat ini adalah naskah-naskah kuno.

Naskah-naskah kuno tersebut masih tersimpan di dalam keraton Buton yang dijaga oleh keturunan kesultanan Buton secara turun temurun. Akan tetapi dalam perjalanannya ada juga naskah kuno yang hilang tanpa diketahui keberadaannya.

Dalam naskah kuno tersebut berbagai infrormasi mengenai kebesaran dan kejayaan kesultanan Buton pada masa lampau seperti, hukum adat, kebudayaan, pemerintahan, tokoh-tokoh intelektual, hubungan dengan bansa-bangsa lain di dunia ,sejarah Buton dimasa lampau termasuk berbagai aspek kehidupan lainnya yang terekam dalam naskah-naskah tersebut.

Menurut  Ketua Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manasa) Sultra Prof. Dr. La Niampe, M.Hum bahwa naskah-naskah kuno dapat dipandang sebagai alat komunikasi yang hidup yang dapat menghubungkan antara kehidupan masa lampau dan masa sekarang serta masa yang akan datang.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh para ahli sejarah, naskah-naskah Buton ditulis dalam berbagai bahasa (Arab, Melayu dan Wolio), namun ada juga yang ditulis dengan menggunakan kombinasi Arab-Melayu (Jawi) dan Arab Wolio atau dalam bahasa Buton di sebut Buri Wolio.

Para penulis atau pengarang naskah kuno ini adalah para tokoh intelektual Buton pada zamannya, diantaranya adalah, Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin Ibnu Badaruddin Al-Buthuni, Syeikh Haji Abdul Gani bin Abdullah Al-Buthuni, Abdul Khalik Maa Saadi Al-Buthuni, Haji Abdul Rahim bin Muhammad Idrus Kaimuddin Al Buthuni, La Kobu, Wa Ode Samarati dan Haji Abdul Hadi.

Para penulis naskah Buton ini telah menghasilkan berbagai karya, bahkan hasil karya mereka tidak kalah produktifnya dengan pengarang dari Melayu maupun pengarang dari Arab seperti Hamzah Fansuri, Abdul Samad Al-Palimbani, Syeikh Muhammad Ibnu Syeikh Abdil Karim dan Haji Abdullah bin Nuh.

Naskah Buton yang masih tersisa saat ini umumnya terbuat dari kertas buatan Eropa yang bercap Concordia, Lion Medallion dan Propatria keluaran pabrik abad ke-18 dan ke-19. Sekarang ini kondisi kertas-kertas tersebu sudah dalam taraf yang sangat mengkhawatirkan, selain karena umurnya yang sudah ratusan tahun, juga karena perawatannya yang kurang memadai. Bahkan sebagian sudah rusak karena lembab, dimakan anai-anai dan terkena percikan kertas.

Dengan demikian, dikhawatirkan segala informasi penting dari naskah kuno tersebut dalam waktu yang tidak lama lagi akan menjadi kenangan bagi generasi selanjutnya. Ironisnya generasi Buton yang dapat membaca naskah-naskah tersebut sudah mulai langka, terutama disebabkan karena bahasa dan aksara yang digunakan semakin asing dalam kehidupan mereka.

“perlu perhatian serius dari pemerintah kota Bau-Bau untuk menyelamatkan naskah kuno Buton, salah satu yang perlu dilakukan adalah menyelamatkan naskah yang tersisa dengan menggunakan scan digital agar naskah kuno yang sudah rusak bisa disimpan dalam bentuk digital atau dicetak kembali dengan kertas baru, sehingga naskah kuno tersebut bisa dipelajari oleh generasi selanjutnya.” Ungkap Prof. La Niampe.

Minimnya generasi muda yang sudah tidak dapat lagi menterjemahkan naskah Buton, mengakibatkan kelangkaan peredaran buku-buku  terjemahan  dari naskah Buton. Selain itu, para penterjemah sudah banyak yang meninggal dunia.

Salah satu upaya yang dilakukan oleh Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manasa) Sultra untuk menyelamatkan kelangkaan peredaran buku-buku tersebut  dengan memperkenalkan buku baru yang bersumber dari naskah Buton. Buku-buku itu di sunting oleh Prof. Dr. La Niampe, M.Hum.

Buku yang baru diluncurkan itu diantaranya Syair Ajonga Inda Malusa karangan Haji Abdul Ganiu pada abad ke-19, naskah asli berbentuk puisi dalam bahasa wolio dengan menggunakan aksara Arab-Wolio (Buri Wolio). Secara umum buku ini membiarakan berbagai hal seperti, agama, budi pekerti, hukum adat dan sistem pemerintah.

Selain itu juga diterbitkan beberapa buku yang juga bersumber dari naskah Buton seperti, Undang-Undang Buton Versi Muhammad Idrus Kaimuddin, Silsilah Bangsawan Buton yang ditulis oleh La Mbia Maa Hadia yang merupakan Menteri Baaluwu, Nasihat Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin Ibnu Badaruddin Al-Buthuni yang ditulis pada awal abad ke-19, Undang-Undang Buton Versi Muhammad Isa, Nasihat Syeikh Haji Abdul Gani dan buku terakhir adalah Hikayat Negeri Buton (Sastra Sejarah) yang bersumber dari Hikayat Sipajongan yang ditulis oleh salah seorang saudagar dari Banjar pada tahun 1267 Hijriyah atau tahun 1850 Masehi.

“kiranya buku ini dapat dijadikan sebagai bahan bacaan masyarakat Buton pada umumnya dan masyarakat terpelajar atau akademisi pada khususnya. Selain itu juga, kiranya buku buku ini dapat menambah koleksi perpustakaan sekolah, mulai dari SD hingga SLTA yang berada di wilayah Kesultanan Buton,” tutur Prof. La Niampe.

Pria yang meraih gelar doktor dan guru besar (professor) bidang ilmu Naskah Buton dan Filologi Buton ini mengaku bahwa penyebarluasan buku-buku ini bukan semata-mata untuk tujuan komersial, akan tetapi lebih memperkenalkan cara pengkajian naskah dengan menggunakan metode filologi sederhana sehingga naskah-naskah kuno yang semula menggunakan bahasa dan aksara yang asing bagi kalangan pembaca menjadi buku ilmiah popular yang dapat dikosumsi atau dibaca oleh masyarakat umum serta dapat digunakan sebagai sumber ilmu pengetahuan. (nining)

Senin, 26 Juli 2010

Lapandewa Butuh Air


PASARWAJO, (KBSC)
Masyarakat Lapandewa saat ini sangat membutuhkan aliran air.  Pasalnya, di sana tidak ada sama mata air atau air PDAM yang digunakan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya.

Sehingga biasa dilakukan masyarakat di sana membangun bak dengan ukuran jumbo  yang isinya digunakan hingga enam bulan. Dan diisi memakai air hujan. Menurut salah seorang masyarakat di sana, La Ago pihaknya sudah beberapa kali meminta bantuan pada Pemkab. Hanya saja hingga kini belum ada realisasi.

“Olehnya kami berharap jika mekar Buton Selatan siapapun yang jadi pemimpinnya, air jadi skala prioritas,” pintanya diacara sosialisasi perkembangan pemekaran Busel dan Buteng di salah satu ruangan kelas SMPN 1 Lapandewa.

Selain itu, tambahnya yang menjadi kebutuhan masyakat juga adalah pemasngan listrik    dan
perbaikan jalan. Sebab dengan terpenuhinya ini, Lapandewa tidak akan terisolir. Tentu juga kemajuan taraf berpikir masyarakat utamanya siswa semakin meningkat.

Terlihat banyak di rumah penduduk memiliki bak air yang sangat besar. Begitupun dari sisi penerangan masih menggunakan PLTS. Itupun menyala hanya pada malam hari, karena siangnya melakukan pengisian lewat matahari. Begitupun jalan raya di ibukota kecamatan rusak. (nining)

Sabtu, 24 Juli 2010

Perempuan Tani dan Pola Tanam Legowo



Sejumlah anggota Koptan Perempuan Asran, tengah melakukan evaluasi hama di sekretariatnya di Demplot dan Pusat Penangkaran Benih Dataran Tinggi Kuang.

Demplot Kuang dengan sistem Legowo21.



Makale, (KBSC).

Peran-peran perempuan memang tidak pernah surut dari segala aktivitas dan pola kehidupan berumah tangga.  Energi perempuan seakan tak pernah surut, seakan tak mengenal keriput dan legamnya wajah-wajah yang tertimpa sinar matahari.

Itulah sekadar penggambaran mengenai sosok dan kiprah perempuan kelompok tani Toraja, yang lebih dikenal sebagai Kelompok Tani Perempuan Asran, Lembang Madandan, Kecamatan Rantetayo, Kabupaten Tana Toraja.

Aktivitas kelompok tani yang mengkhususkan anggotanya lebih dominan perempuan, (ada beberapa laki-laki juga pengurus koptan perempuan ini, red), setelah melakukan studi banding dan beberapa kali training tentang pola penanaman legowo21, yang saat ini baru dipahami oleh petani dataran tinggi Toraja.

Diakui, sistem legowo21 ini sebenarnya sudah lama dikembangkan, utamanya di Jawa, tetapi khusus untuk di Kabupaten Toraja dan Toraja Utara, untuk pertama kalinya (sejak dua musim lalu, red) sudah mulai diterima di kalangan petani.

Lucunya, justru kelompok-kelompok tani perempuan ini yang lebih dulu menerima sistem ini. Dimana karena penolakan ini dianggap cukup bermasalah bagi kondisi sawah-sawah di dataran tinggi, seperti luas sawah / tanah yang sempit memanjang, kondisi yang bertingkat-tingkat, sehingga sejumlah petani sangat menyayangkan lowongnya tana-tanah yang menurutnya mubassir.

Seperti diketahui, pola legowo21 ini, yakni jarak tanamnya 20 cm x 40 cm. Artinya, jarak samping yakni 40 cm, sementara jarak muka-belakang yakni 20 cm. Dimana selama ini, sistem tanam yang tradisional, adalah 5 cm x 10 cm.

Jadi, tradisi itu yang dilabrak oleh Koptan Perempuan Asran, dan setelah melalui dua kali musim, akhirnya mereka menyadari bahwa pola ini selain efektif atau irit terhadap kebutuhan air, dan produksinya jauh lebih meningkat.

Pendampingan
Tumbuhnya kesadaran bagi perempuan tani di Toraja memang melalui proses yang panjang. Awalnya, mereka menolak, bahkan mencemoh penyuluh-penyuluh yang disiapkan oleh Yayasan WALDA. Alasannya, sederhana, sedangkan Dinas Pertanian setempat yang setiap musim telah membikin demplot percontohan tidak ada yang berhasil.

Malah penyuluh pertanian yang telah disiapkan oleh pemerintah setempat “tidak siap” melayani kebutuhan pengetahuan masyarakat. Hal ini sangat dirasakan oleh Koptan Perempuan Asran. Waktu itu, setelah padi tumbuh beberapa minggu, kemudian terlihat adanya tanda-tanda serangan hama, maka dipanggillah penyuluh dinas untuk memantau, atau mencermati hama itu, tapi jangkan ia datang, menerima telepon dari warga saja tidak mendapatkan pelayanan yang baik.

Jadi tantangan yang terberat dirasakan petani, bukan hanya koptan perempuan, adalah ketersediaan layanan informasi yang memadai dari pihak pemerintah. Oleh karena kondisi seperti itu, maka koptan ini tidak mau menyerah begitu saja, akhirnya WALDA mendatangkan penyuluh swadaya, Nasruddin dari Pinrang dan Parepare.

Berkat kegigihan tan mengenal menyerah, Nasruddin berhasil meyakinkan masyarakat, atau petani, tentang efektitas pola ini. “Setiap saat, tidak mengenal waktu dan kondisi, misalnya hujan keras, saya dengan naik motor butut dari Parepare datang ke Toraja untuk melayani kebutuhan petani,” aku Nasruddin, yang juga dibenarkan oleh Manager Pusdiklat Pertanian Dataran Tinggi Toraya, Yosni Pakendek.

Pusdiklat SL-PPT swadaya ini adalah usaha nyata dari WALDA untuk terus melakukan pendampingan dan penguatan organisasi-organisasi petani di dataran tinggi.

Dengan dukungan non financial seperti itu, maka Koptan Perempuan Asran juga telah melakukan ekspansi usaha, seperti pembuatan briket arang dari limbah buah pinus, dan ke depannya, akan mengembangkan pola peternakan terpadu dengan sistem budidaya pakan. (s.darampa)   

Sabtu, 17 Juli 2010

Gowa Mempersiapkan Kepemimpinan Perempuan


ACCESS-AUSAID bersama dengan mitra strategisnya dari Solo, Gita Pertiwi, telah mengembangkan dan mempersiapkan kader-kader perempuan untuk merebut posisi-posisi strategis di masa mendatang. Posisi ini baik dalam struktur informal di kemasyarakatan, maupun pada struktur formal.

Persiapan strategis kepemimpinan perempuan ini digelar pada training Women Leadhership, yang diikuti oleh 6 lembaga social kemasyarakatan di Kabupaten Gowa, diantaranya adalah Yayasan WaKIL, YPL, YBC, YKM, LBI dan TGC. Masing-masing lembaga mengutus 4 orang wakilnya atau staffnya, dimana prosentasinya adalah 3 perempuan dan seorang laki-laki.

Sementara dari ACCESS sendiri, mengikutkan 3 orang utusannya, yakni Nurfajri (laki-laki), Ratna Arasy dan Sari (perempuan). Fasilitatornya adalah Ibu Dewi dan Ibu Titiek.

Materi-materi yang disuguhkan antaralain, “kapal riste tentang perempuan”, “beberapa pengertian tentang gender dan seks (perbedaannya)”, “gender social inclusive”, kondisi dan fakta-fakta masing-masing LSM dalam rangka mempersiapkan kader-kader perempuannya”, sejumlah rekomendasi dan kegiatan-kegiatan lanjutan untuk memperkuat pencapaian agenda women leadhersip.

Mengapa Gender Penting ?
Jenis Kelamin merujuk pada perbedaan biologis antara perempuan dan laki-laki yang bersifat kodrati (didapat dari kelahiran) dan universal. Jadi, gender merujuk pada arti dan peran sosial sebagai perempuan dan sebagai laki-laki menurut masyarakat budayanya

Arti dan peran sosial (Gender) tsb, didapat  karena :
•    Disosialisasikan sejak dini
•    Dibesarkan
•    Diajari berprilaku
•    Diharapkan
•    Sebab itu gender bersifat dinamis (karena masyarakat budaya itu beragam dan berubah)
•    Pembagian kerja menurut jenis kelamin
•    Peran/status kedua jenis kelamin dalam keluarga/masyarakat
•    Kepantasan dalam berprilaku
•    Hubungan/relasi antara kedua jenis kelamin
•    Hak dan wewenang antara kedua jenis kelamin
•    Pengalaman, kebutuhan, hambatan sebagai perempuan dan sebagai laki-laki
•    Dst.

Jadi,  konsep gender dan PUG muncul sebagai unsur penunjang pembangunan relatif baru muncul dalam Konperensi Perempuan ke- 3 di Nairobi 1985 dalam suatu perdebatan peran perempuan dalam pembangunan sebagai response terhadap ketertinggalan perempuan di dalam hampir semua bidang pembangunan

Di konperensi Perempuan ke- 4 di Beijing 1995, PUG menjadi kesepakatan bersama, PUG masuk kedalam The Beijing Platform For Action

Juga, soal Response Indanesia : Inpres No. 9 Tahun 2000 yaitu Intruksi Presiden yang mengharuskan semua sektor pembangunan melaksanakan PUG

PRJM 2004-2009, peningkatan kualitas hidup perempuan, salah satu agenda menciptakan Indonesia adil dan demokratis

Adanya kesenjangan hasil capaian pembangunan antara perempuan dan laki-laki dihampir segala bidang pembangunan, diperlihatkan dalam berbagai indeks dan ukuran pembangunan Indeks Pembangunan Manusia (HDI), Indeks Pembangunan Gender (GDI), Ukuran Pemberdayaan Gender (GEM), padahal De Jure tidak boleh ada diskriminasi (UUD 1945, pasal 28 ayat (1) dan pasal 31 (1), UU No. 7 tahun 1984, Penghapusan Segala Bentuk, Diskriminasi Terhadap Perempuan)

Menurut Fasilitator, Dewi dan Titiek, bahwa kepemimpinan adalah kemampuan seseorang dalam mempengaruhi kelompok atau pengikut untuk mencapai satu tujuan tertentu, kepemimpinan perempuan dapat didefinisikan sebagai kemampuan dari perempuan untuk mempengaruhi kelompok atau pengikutnya mencapai tujuan tertentu, dalam konteks budaya patriarkhi, kepemimpinan perempuan merupakan perjuangan perempuan untuk meminta kembali pikiran mereka dan mematahkan kediaman yang dipaksakan oleh struktur-struktur patriarkhat dan institusi-institusi lain yang membatasinya

Juga ia menawarkan beberapa hal, diantaranya, adalah bagaimana syarat mutlak bagi kepemimpinan perempuan adalah perspektif keadilan gender yang harus mampu membawanya ke proses refleksi dan analisis atas pengalaman hidup sehari-hari yang kemudian membimbingnya mengenali struktur-struktur lebih besar yang kadang kala tidak terlihat.

Hal lain, menurutnya, perspektif keadilan gender akan membantu pemimpin perempuan untuk melihat dirinya sebagai pembuat sejarah, bukan hanya sebagai obyek pasif dari proses bersejarah.

Peluang-peluang untuk kepemimpinan perempuan:
Beberapa peluang-peluang untuk merebut kepemimpinan perempuan adalah karena factor kebijakan negara dan skema proyek gender, mendayagunakan pendidikan alternatif yang sudah dikembangkan oleh masyarakat sipil untuk penguatan perspektif gender, skema program-program pemerintah, NGO, dll, memaksimalkan keberanian dan keaktifan yang sudah dimiliki pemimpin perempuan, otonomi daerah (otonomi desa)

Maka untuk itu, bagaimana mendorong perempuan merebut ketertinggalan, dengan cara meningkatkan akses dan kontrol perempuan terhadap semua sumberdaya dan mengatur pasar agar meningkatkan produktivitas keluarga dan pendapatan ekonomi secara luas.

Design program secara eksplisit menyebut  target perempuan, namun bukan perempuan saja, tapi harus ada keseimbangan jumlah laki-laki dan perempuan. Eksplisit target ini merupakan sebuah proses untuk mengakhiri diskriminasi gender dan menjamin hak-hak perempuan.

Ukuran keberhasilan program terdapat pada produktivitas, peningkatan pendapatan (laki-laki dan perempuan) serta pengelolaan SDA, pelestarian lingkungan ,manfaatnya  diterima secara nyata oleh perempuan.

Promosikan  organisasi perempuan (kelompok, jaringan, federasi,dll) untuk meningkatkan kapasitas , akses pelayanan dasar, serta pemberdayaan ekonomi yang mampu meningkatkan produktivitas dan pendapatan secara kolektif.  Peningkatan kapasitas terutama untuk mendorong kemampuan  analisis, pengambilan keputusan serta leadership.

Membudayakan  orientasi profit  dalam bekerja. Banyak buruh perempuan hanya menjadi pelengkap proses produksi dipertanian sehingga hanya dibayar murah. Adanya kebijakan dan intervensi  yang memberikan peluang  bagi semua pekerja pertanian  meningkatkan produksifitas.
 
Memberikan kemudahan kepada perempuan untuk mendapatkan kemudahan sumber daya finansial untuk memenuhi kebutuhan usaha dan keluarganya . Pertumbuhan keuangan lokal di pedesaan menjadi salah satu intrumen dalam pengentasan kemiskinan.

 Rekruit dan latih perempuan sebagai jasa layanan masyarakat. Peningkatan jumlah tenaga kerja perempuan di garis depan akan memberikan  pelayanan lebih baik, pengembangan usaha, konservasi lingkungan sebagai salah satu jalan untuk meningkatkan keseimbangan pelayanan dasar.

Melindungi hak perempuan dan mengontrol pertumbuhan ekonomi  agar mereka mendapatkan asset untuk peningkatan pendapatan.

Khusus dalam hal partisipasi untuk pengambilan keputusan, harus dipastikan suara perempuan dan perwakilannya dalam pengambilan keputusan. Dorong adanya quota untuk meningkatkan representasi keterwakilan perempuan dalam pengambilan keputusan

Melibatkanperempuan di pedesaan ikut mendesign produk yang inovatif dan pelayanan bagi masyarakat. Dengan  pendekatan yang partisipatif, mereka dapat merencanakan kebutuhannya serta merancang tehnologi yang sesuai.

Mengembangkan riset pengetahuan yang memberikan informasi bagi pengambil kebijakan.

Melakukan gender assesment dan asistensi tehnis serta konsultansi yang langsung memberikan informasi praktis bagi pengambilan keputusan. (s.darampa)
 

Senin, 07 Juni 2010

Deklarasi PBB Hak-Hak Masyarakat Adat di Toraja

Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Toraya telah menggelar training untuk advokasi dan promosi Deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hak-hak Masyarakat Adat atau yang disingkat UNDRIP (United Nations the Declartion of Right Indegiones People).

Advokasi dan promosi UNDRIP yang disponsori oleh IPP di 6 negara di Asia, seperti Bangladesh, India, Indonesia, Malaysia, Philipina, dan Thailand. Untuk Indonesia, maka dipilih Kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara sebagai site training advokasi dan promosi UNDRIP.

Peserta yang hadir dalam training ini adalah untuk dalam lingkup AMAN Toraya, selain pengurus AMAN Toraya, juga perwakilan komunitas-komunitas dari 32 wilaya adat se-AMAN Toraya, eksekutif dan legislative pada kedua kabupaten tersebut.

Dari luar AMAN Toraya, juga utusan Wilayah Adat Sando Batu (Kabupaten Sidrap), wilayah adat Kabupaten Maros, wilayah adat Kabupaten Sinjai, Wilayah Adat Pakka Salo, Lappalampoko dan Tellang dari Kabupaten Bone, Pengurus Harian AMAN Sulsel.

Pada kesempatan ini juga hadir para kader pemula AMAN Toraya, yang terdiri dari community organizing dan fasilitator-fasilitator dari masing-masing wilayah adat. CO ini adalah alumni community organizing training (COT) yang dilakukan kerjasama AMAN Toraya dengan IPP.

UNDRIP membahas agenda dan pasal-pasal yang memuat tentang hak-hak masyarakat adat, misalnya self determination, free prior and informated consent (FIPC), hak atas tanah dan wilayah serta sumber daya alam, hak atas budaya dan kekayaan intelektual, hak atas pembangunan, dan lainnya.

Seingga training yang dilakukan selama 3 hari di dua kabupaten tersebut, akirnya menetapkan beberapa agenda, yakni agenda yang berdasarkan masala-masalah atau tantangan yang dihadapi masyarakat adat, seperti :

Revisi tentang Peraturan Daerah (Perda) Lembang. Dimana selama ini pemberlakuan tentang perda ini hanya mengganti ‘baju’ saja, tetapi sistemnya nyaris tidak ada bedanya dengan sistem atau struktur pada pemerintahan desa. Dengan revisi ini, maka pemerintahan lembang adalah wujud dari suatu pemerintahan adat yang didukung oleh fungsi-fungsi kombongan sesuai adat istiadat masyarakat adat Toraya.

Peraturan Daerah tentang Masyarakat Adat. Tujuan usulan ini guna memperkuat eksistensi masyarakat adat dalam kehidupan berbangsa dan bertanah air Indonesia, tetapi bingkai yang mengaturnya di dalam pemerintahan Kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara adalah regulasi masyarakat adat. 

 Revisi Peraturan Daerah tentang Retribusi dan Pajak. Revisi Perda ini dibutuhkan karena dirasakan sangat mencekik atau merugikan masyarakat adat, khususnya tentang pungutan atau pajak hasil potong hewan. Retribusi ini merupakan pendapatan asli daerah Pemkab Tana Toraja dan Toraja Utara pada urutan nomor dua. Harapan masyarakat seandainya ini dikelola oleh masyarakat adat, sekitar 10 persen saja dari nilai potongan pajak tersebut, sudah sangat membantu tongkonan-tongkonan didalam memperkuat eksistensi pada suatu wilayah adat.

Selain secara khusus menyorot tentang upaya-upaya perbaikan regulasi kebijakan, maka hasil-hasil UNDRIP juga mendorong agenda ntuk redesaign wilayah belajar bagi masyarakat adat, misalnya tata kelola khusus untuk lokasi upacara-upacara, tata kelola khusus untuk lokasi pertanian organic farming (di lokasi Kuang, Lembang Madandan, di lokasi Lembang Buttu Limbong di Wilayah Adat Se’sseng, dll)

Untuk kebutuhan tata batas pada masing-masing wilayah adat, sehingga tidak terjadi atau tidak meluas kasus perluasan wilayah administrasi Kota Palopo yang memasuki / mengintervensi wilayah adat Nanggala, dll. 

Disisi lain, AMAN Toraya dan beberapa pengurus daerah AMAN Sulsel juga tengah menyiapkan strategi pembelaan terhadap ancaman kasus Tambang Sangkaropi, kasus Bendungan Malea, kasus Perkebunan Kurra,  Jasa Lingkungan Air PDAM Kota Rantepao (sumber air ekosistem hutan adat Nanggala),  kasus Pembangunan Bandara Baru Mengkedek, menindaklanjuti krimiminalisasi yang dialami oleh masyarakat adat Sinjai oleh Dinas Kehutanan Kabupaten Sinjai.

Sementara untuk agenda internal keorganisasi AMAN Sulsel atau pengurus-pengurus daerahnya, maka diputuskan untuk interaksi komunikasi antara AMAN Sulsel dengan pengurus-pengurus daerah, AMAN Sulsel mempercepat penguatan dan pembentukan pengurus-pengurus daerah yang belum terbentuk, dan selama belum terbentuk terus memperkuat kebutuan-kebutuan organisasi daerah, secara active melakukan monitoring dan evaluasi, baik yang menyangkut pencapaian program-program kerja, maupun dalam rangka memperkuat mekanisme dan aturan-aturan organisasi PD.

Sekretaris Jenderal PB AMAN, Abdon Nababan, sebagai satu-satunya narasumber pada UNDRIP menjelaskan sejarah panjang lahirnya UNDRP, dimana jauh sebelumnya perwakilan-perwakilan masyarakat dari di berbagai belahan dunia tela berhasil meluncurkan dan menengosiasikan beberapa keputusan-keputusan dan kebijakan internasional, seperti konvenan-konvenan, perjuangan para kepala adat di Liga Bangsa-Bangsa, konvensi ILO, konferensi di Jenewa dan lain sebagainya.

Lebih Jauh Abdon juga menyorot kemajuan-kemajuan masyarakat adat nusantara yang telah berhasil mendorong dan memperjuangkan beberapa issu nasional yang menjadi agenda penting pemerintah Indonesia, seperti tentang pengelolaan hutan oleh masyarakat adat yang dikemas dalam frame REDD, MoU antara AMAN dengan KLH, Mou AMAN dengan Departemen Kelauatan, serta memperkuat rancangan kerjasama bilateral Indonesia – Norwegia dimana AMAN menjadi alat tawar-menawar untuk memperkuat agenda masyarakat adat nusantara.

Akhirnya sebelum training ini berakhir, maka diputuskan ada 4 tim adhoc yang secara khusus mengerjakan beberapa agenda, yaitu :

Adhoc I tentang regulasi dan kebijakan akan menyelesaikan, Sosilisasi Deklarasi PBB tentang Hak-hak Masyarakat adat di tingkat komunitas, Revisi Perda Lembang, Ranperda MA Toraya
 
Adhoc II tentang tata ruang wilayah adat, akan menyelesaikan Pemetaan Partisipatif atas 32 Wilayah Adat Toraya,  Pengembangan Site Ecotourism pada komunitas atau wilayah adat

Adhoc III tentang advokasi kasus-kasus pembangunan, dimana agendanya adalah Pembuatan Films Dokumenter Kurra, Advokasi Hulu Hilir Sumber Air, kasus tambang Sangkaropi, Kasus Bendungan Malea, dan upaya krimininalisasi kader AMAN di wilayah adat Sinjai.

Adoc IV tentang gerakan kebudayaan (mendulang mitos), agendanya adalah revilitasisasi Budaya Lisan dan Adat Istiadat kekayaan intelektual Masyarakat Adat Toraya, testorasi Tongkonan-tongkonan dan Budaya Material Lainnya, dokumentasi ( visual n audio visual ) dan Promosi adat dan budaya, partisipasi masyarakat Adat dalam lovely Desember.

Untuk memperkuat penyelesaian agenda tersebut diatas, maka Aman Toraya membuat tim kerja berdasarkan prioritas (working group : wkl Legislatif dan Eksekutif 2 Kabupaten, Aman Toraya, Wkl Komunitas, LSM Pendamping, Aman Wilayah Sulsel, AMAN) pada masing-masing tugas dan kewenangan, deadline tim adhoc terbentuk  ( disertai uraian tugas )à 1 bulan, LSM Pendamping memperkuat kertas kerja ADHOC à Walda, YPPK, KIPPRA, Sulawesi Channel , LSM ?, media ?, Pemerhati Toraya , Aman Toraya menjajaki sumber pendanaan, peserta mendaftarkan diri ke panitia untuk terlibat di tim kerja (adhoc). (s.darampa)