SC Office : Jln.Pampang I, No.23C, Makassar - Sulawesi Selatan. Mobile : 081341640799. FB : Sulawesi Channel. Email : sulawesichannelnews@yahoo.co.id.

Rabu, 08 Februari 2012

EMANSIPASI WARGA BONTO MALLING

Proses perencanaan oleh warga akhirnya menjadi sangat penting, setelah menyusun rencana kerja pembangunan RKPDes, maka warga salah satu dusun di Desa Bonto Malling, Pulau Jampea, Kab.Selayar, langsung musyawarah untuk berswadaya (partisipatif dan emansipasi) dalam penyediaan air bersih bagi dusun mereka. Dimana selama ini selalu menunggu instruksi dari Pemdes, sekarang mereka sudah aktive kembali tanpa perlu mendapat perintah.

Dahulu kala, entah pada zaman apa, ekosistem tanjung disebelah tenggara Pulau Jampea terdapat  sebuah komunitas adat yang aktivitas utamanya adalah melaut sebagai pendapatan utama keluarga mereka. Kemudian komunitas ini ditetapkan sebagai “Kampong Tua”. Dari perkampungan inilah yang dianggap sebagai pemukiman tertua dan pertama-tama di Pulau Jampea yang saat ini sudah dimekarkan menjadi dua kecamatan 13 desa.  Dari kampong inilah juga saat ini dikenal sebagai Desa Bonto Malling.
     Menurut versi warga setempat, seiring dengan waktu komunitas kecil itu berkembang dan mulai merambah pedalaman dikarenakan aktifitas melaut mereka kadang terganggu oleh perubahan musim ekstrim setiap tahun, dimana terjadi penduduk mengalami paceklik, jangankan untuk hasil laut untuk dijual bahkan untuk di makan pun mereka sangat langka.
    Melihat kondisi tersebut, maka tampillah seorang lelaki tua dengan semangat dan kemauan yang besar untuk memecahkan tantangan yang dialami warga dan komunitasnya. Lelaki setengah baya itu bernama Papak Sipo. Ia kemudian mencoba memasuki kawasan hutan alam, meski itu dianggap angker dan penuh mistik. Tujuannya adalah mencoba bercocok tanam, sawah ladang, yang diasumsikannya sebagai solusi mengatasi badai musim ekstrem.
     Akhirnya, terbukalah kawasan hutan primer tersebut sebagai mata pencaharian penduduk setempat, walau pun mereka tetap bolak-balik antara sawah ladang mereka dengan pemukiman Kampong Tua. Melihat kondisi dan keseriusan Papak Sipo, maka kemudian anak dan istrinya-lah juga turut membantunya, termasuk setiap kali membawakan bekal makan siangnya.
     Setiap kali mau memasuki gerbang hutan, maka berteriaklah anak dan istrinya memanggil Papak Sipo, lau terdengarlah jawaban yang berdengung atau suara yang melingkar-lingkar memenuhi suasana hutan. Suara dengung inilah yang dikemudian hari dimonumentalkan sebagai nama tempat, yaitu Bonto Malling.
    Bonto yang artinya ketinggian, bukit atau gunung, yang merupakan areal atau kawasan bertani ladang, sedangkan Malling dalam bahasa Selayar-nya “dengung”. Maka hingga saat ini, kawasan yang dibuka Papak Sipo itu bernama Bonto Malling, yang kemudian menjadi Desa Bonto Malling.
    Sementara ketika zaman DI/TII, maka Bonto Malling merupakan basis lasykar dalam menghindari kejaran tentara republik.  Namun hingga kini, suasana desa yang terletak di pantai timur pulau Jampea tersebut terbentang potensi alam tiga dimensi, pegunungan dengan ekosistem hutannya yang masih tersisa, daratan dengan ekosistem sawah tadah hujan, serta ekosistem hutan bakau dengan pesisirnya yang juga menyediakan tambak-tambak masyarakat.
     Secara geografik, maka Bonto Malling terletak di sebelah utaranya Desa Bontobulaeng, di sebelah timur dan selatan Laut Flores dan disebelah barat adalah Desa Lembang Baji. Lus wilayah terdiri atas 14,47 Km2 dengan system pemerintahan terdiri atas 4 dusun, yakni Parang, Biropak, Parumaang dan Erelompa.
      Untuk mencapai desa ini membutuhkan waktu tempuh 6 – 7 jam perjalanan fery dari Benteng, ibukota Kabupaten Selayar menuju arah tenggara. Tiba di pelabuhan fery Pulau Jampea, juga Benteng namanya, membutuhkan 3 – 4 jam perjalanan motor. (sultan darampa)

BUTA HURUF : Jago Perencanaan


Tak ada kata terlambat bagi orang-orang yang ingin maju dan sukses dalam meraih cita-citanya. Tidak pula ada kata penyesalan atas kemunduran yang dialaminya selama ini. Prinsip inilah yang kemudian dialami seorang ibu rumah tangga, Bunga Rampe, warga Desa Bukit Timur Kecamatan Buki, Kabupaten Selayar.
     Berdasarkan data sensus social yang diperoleh, sang ibu termasuk salah satu warga yang tergolong sangat miskin dan juga buta huruf. Pada saat kegiatan sosialisasi Accsess di Desa Buki Timur, ia mulai aktif dan merasa sangat kaget ketika menerima undangan dari Kepala Desa dimana sebelumnya Bunga Rampe sama sekali tidak pernah diundang dalam pertemuan apapun di desa.
     Rassa bangga dan penasaran itulah yang kemudiaan menggerakkan hati dan perasaannya untuk melangkahkan kakinya ke tempat acara sosialisasi dilaksanakan. Kemudian rentetan kegiatan dikemudian hari juga tak pernah ketinggalan, termasuk temu warga soal peringkat kesejahteraan masyarakat (PKM). Malah ia sering bercerita, utamanya soal kreteria siapa yang kaya, sedang, miskin dan sangat miskin.
    Cerita dan argumentasi-argmentasi sang ibu itu tertuang dalam bentuk visual, atau gambar-gambar pada kertas plano. Melihat apreasitf tersebut, ada juga peserta yang cukup geli, apalagi peserta lain yang sudah “kenyang dengan bangku sekolahan”. Dengan mengandalkan pendengarannya, ia menyimak sejumlah penyampaian dan penjelasan tujuan-tujuan diadakannya kegiatan ini.
     Ia sebenarnya memang melek, tapi dia tidak mengerti jenis-jenis huruf bahasa Indonesia. Yang dia mengerti adalah bagaimana gambar-gambar tersebut, apalagi kalau gambar-gambar tersebut berkaitan dengan kesehariannya.
     Ketika diminta bagaimana menggambarkan alur kehidupannya beserta keluarganya, atau dalam bahasa programnya adalah apresiatif ingquiry, atau merumuskan mimpi dan cita-cita desa, kembali terlihat gambar lingkaran yang mengibaratkan suatu pola relasi dalam kehidupan.
    Suatu ketika, Bunga Rampe bercerita, ia datang ke Baruga Kantor Desa Buki Timur untuk ikut dalam kegiatan Pemetan Asset. Waktu itu hari masih pagi sekali ketika mendapat undangan tertulis dari pihak Kantor Desa. Untungnya si-pembawa undangan memperingatkan sambil berlalu dari depan rumahnya bahwa pertemuannya sebentar sore.
     Tapi anehnya, setelah berjalan beberapa lama dan sudah tiba di tujuan, di kantor desa. Ia mulai bingung, kenapa kantor ini sunyi senyap, tidak orang biar satupun. Ia dilanda kebingungan, malah ia berpikir jangan sampai terlalu cepat dapat. Akhirnya menunggu beberapa waktu lamanya, dan kegelisahannya tidak dapat ditahannya lagi. 
     Terpaksa mengambil inisiatif, pergi ke rumah Nur Wahidah (salah seorang KPM), untuk menanyakan kembali soal rencana (agenda rapat). Sesampai di rumah KPM, baru tersadar bahwa pertemuannya dilaksanakan di salah satu rumah KPM. Akibat salah ingat tempat kegiatan, ia  menjadi bahan tertawaan, karena ternyata undangan yang diterimanya tidak bisa dibacanya.
     “Saya juga baru tahu kalau isi undangan itu tertera alamat atau tempat pertemuan. Tapi saya tidak salahkan pak desa, atau orang yang mengundang, dan mudah-mudahan lain kali saya mendapat undangan dengan cara istimewa, tidak perlu pakai surat segala nanti bikin repot semua orang,” katanya sambil tertawa.
    Kondisi buta huraf yang disandangnya ternyata tidak dianggap kekurangannya, malah dianggap suatu kebanggaan. Alasannya, “seandainya saya tidak buta huruf, mungkin tidak pernah saya mendapatkan tempat istimewa di dalam rapat-rapat di kantor desa ini,” kata Bunga Rampe yang profesi kesehariannya seorang dukun beranak, juga berprofesi sebagai pengrajin atau pembuat keranjang bambu. (sultan darampa)

Kamis, 27 Oktober 2011

ULLA : Kuburan Hindu dan Kremasi Mayat (sesi I)


Kuburan tua yang diperkirakan masih zaman hindu yang terletak di Komunitas Adat Ulla. Komunitas ini juga masih memelihara dan menjaga makam tersebut.
Gambar kedua adalah kawasan PATTUNUANG. Disini dulu tempat yang dizakralkan untuk pembakaran mayat (dikremasi) masih zaman sekitar sebelum Islam masuk di Kerajaan Bone-Sulsel.  

Ulla yang terletak di Desa Mattirowalie, Kecamatan Mare, Kabupaten Bone Sulawesi Selatan adalah komunitas adat yang masih kuat mempertahankan tradisi dan kebiasaan nenek moyangnya masa silang. Selain masih melestarikan ritualnya, juga secara turun-temurun mengelola sumber daya alamnya berdasarkan tata cara melalui hukum adat yang mereka anut secara ketat pula.

Untuk mencapai komunitas local ini, membutuhkan waktu 5 – 6 jam dari Ibukota Kabupaten Bone, Watampone, dengan kendaraan roda dua.

Ulla tidak diketahui pasti kemunculannya, tapi dari berbagai versi, kata ulla sendiri diambil dari “ular”. Artinya awalnya kampung atau ekosistem, ataupun komunitas tersebut dinamai Ulla karena di daerah itu memiliki banyak sekali ular, sehingga dalam perjalanannya orang-orang Ulla dan keturunannya tidak dibolehkan membunuh ular, malah “dipimmalikan” menyebut nama ular, tapi tentu dengan istilah lain.

Komunitas ini masih dijumpai bukti-bukti sejarah masa silam, utamanya alam dan benda-benda yang tak bergerak lainnya, diantaranya adalah :

Pattunuang. Tempat ini dikhususkan untuk tempat kremasi, dimana orang-orang ulla tempo dulu, kira-kira masih zaman batu, ketika sudah meninggal, mayatnya langsung di bakar pada satu tempat.

Kata Pattunuang itu berkosa kata, tunu dan awal Pa dan akhiran ang, dimana kata tunu diartikan bakar, dan awal Pa dan akhiran ang itu, adalah kata bantu yang menunjukkan keterangan tempat. Jadi pengertian Pattunuang adalah tempat membakar, dank arena tempat ini telah disakralkan secara turun-temurun, maka Pattunuang itu dipercaya sebagai tempat me-kremasi mayat-mayat anggota komunitas yang telah meninggal.

Berdasarkan cerita turun-temurun warga Ulla, pernah suatu ketika ada seorang warganya, diperkirakan salah seorang pemimpin komunitasnya, ketika sudah meninggal mau dikremasi di Pattunuang.  Tetapi setelah berlangsungnya pembakaran, dan kemudian didiamkan beberapa hari lamanya, ternyata mayat tersebut tidak hangus oleh api. Akibat peristiwa tersebut, maka ritual ini diulangi beberapa kali ternyata hasilnya tetap sama, mayat tetap tidak tersentuh oleh opi, tetap utuh dan sama sekali tidak rusak.  Berdasarkan perisitwa ritual tersebut, maka akhirnya kesepakatan adat diputuskan bahwa mayat tersebut sebaiknya di kuburkan, dan sejak saat itu, kemudian masyarakat mulai mengenal istilah penguburan bagi warga komunitas yang sudah meninggal.
   
Kuburan kuno (sebuah kuburan kuno yang bentuknya menghadap ke barat). Kuburan ini diindikasikan masih zaman hindu kuno, dan berdasarkan berbagai literature  yang ada bahwa jika bentuk kuburan tersebut menandakan masyarakatnya sudah mengenal istilah agama dan kepercayaan, jadi bukan lagi animisme yang mempercayai pohon, matahari atau lainnya sebagai sesembahan utama. 

Batu nisan pada kuburan tua ini berwarna merah, kelihatan sangat kuat, seolah-olah tidak lapuk oleh zaman, sementara ukuran kuburan ini lebih besar dari ukuran rata-rata kubur manusia Indonesia, lebih panjang, sehingga masyarakat mempercayainya bahwa sang mayat memiliki postur tubuh yang lebih tinggi atau besar.

Sayangnya, kuburan ini tidak dilengkapi dengan artepak atau bukti-bukti sejarah dalam bentuk lain, dan di batu nisan tersebut, tidak tertulis ataupun petunjuk yang dapat dijadikan pegangan pada tahun ke berapa atau pada zaman ke berapa kuburan ini dibuat.

Mattiro Sompe.
Sebuah puncak yang untuk melihat seluruh dataran-dataran, ataupun lembah-lembah yang ada di sekitarnya, malah dapat memandang pantai dan samudra, utamanya di Malam hari. Penamaan Mattiro Sompe itu diawali ketika kepala adat Ulla mengejar rombongan penculik yang membawa lari anak gadisnya, dimana pada puncak tersebut mereka (rombongan pengejar) ini berhenti, dan memandang kapal penculik telah berlayar. Mattiro diartikan sebagai memandang (melihat) dari jauh, sompe artinya orang yang pergi merantau, atau sompe juga diartikan layar kapal yang telah dibentangkan (pengganti mesin kapal).

Disinilah kepala adat bersumpah bahwa dengan penculikan tersebut tidak akan pernah lagi ada gadis yang lahir di Ulla dengan kecantikan yang luar biasa. Sumpah ini lahir karena sikap angkara sang pimpinan adat yang kecewa lantaran kecantikan anaknya yang dianggap menyerupai bidadari itu merupakan sumber bencana, diculik, di bawa lari. Sumpah ini konon sangat bertula, pada satu dasawarsa tertentu, setiap anak perempuan yang lahir dengan kecantikan yang luar biasa, pasti dalam waktu dekat meninggal, tidak ada yang panjang umur.(bersambung - sultan darampa)

Kamis, 29 September 2011

Tonrong, Komunitas Adat Penghasil Gula (2)


Kedatangan kami beserta rombongan di tengah malam buta di kawasan pegunungan dingin mencekam itu, mengundang kekagetan para tuan rumah, termasuk tetangga yang sempat mendengar “keributan” kedatangan rombongan.

Hanya kelihatannya Pak Kadus saja yang tidak terlalu kaget, karena sudah dihubungi sebelumnya oleh Dg Tiro, salah seorang CO Sulawesi Channel di Kabupaten Sinjai. Meski demikian, ia juga tidak menduga akan kedatangan kami seperti “datang tak diundang, pulang tak diantar”.

Setelah menghidup air panas, teh hangat pada menjelang tengah malam. Akhirnya Dg.Tiro menjelaskan kedatangan kami, sekaligus membuat alasan-alasan realistis kenapa rombongan ini terlambat. Muh.Arfah, yang juga Campaigner Sulawesi Channel di Kawasan Bowonglangi, menambahkan, bahwa kedatanganku bersama seorang kawan, yang tiba-tiba muncul di rumahnya di Tanah Lembang, sebuah desa berpenduduk ramai yang menghubungan antara Torong dengan jalur lintas Kabupaten Gowa – Kabupaten Sinjai.

Dengan sedikit basah kuyub, saya menjelaskan, kenapa kami berdua datang tanpa mengontak sebelumnya. Saya pun berkilah, memang begitulah karakter kami, laksana hantu yang dapat muncul di tempat yang berbeda, (baca : konyol).

Kembali, di hadapan Pak Kadus, saya mengakui keterlambatan untuk menfasilitasi dusun ini didalam pengorganisasian rakyat, karena berbagai alasan dan teknis. Dimana memang sebelumnya, justru Pak Kadus yang mengharapkan kedatangan rombongan.

Tapi sempat juga terjadi penjelasan yang panjang dan lebar, malah lebar sekali, karena kedatangan kami dikira membawa peti bantuan, atau gerobak proyek, seperti PNPM, atau program-program lainnya. Saya pun menjelaskan, jangan program atau proyek, kedatanganku pun hampir tidak mampu sampai, karena bekal perjalananku, yang berupa uang pembeli bensin juga nyaris tidak mencukupi, jadi apalagi mau membawa bantuan.

He he he,…dengan kondisi ini, nyaris warga dusun tidak percaya, apalagi tampang kami sedikit lebih jumawa, lebih sejahtera,…memang kalau melihat dari tampang sih, kayaknya memang banyak konglomerat yang kalah telak.

Tapi bicara soal kantong,…maaf, blong.

Setelah penjelasan berliku-liku, penduduk pun mengerti, selain mengerti niat baik kami, juga dapat memaklumi bahwa rombongan kami datang tidak untuk minta sumbangan, apalagi kalau mau pulang tentu tidak berharap membawa hasil-hasil bumi, seperti cengkeh, kopi, atau beras.

Kecuali kami dibekali dengan perasaan gembira, perasaan harapan bagi penduduk, dan tentu juga membawa dua kardus gula merah yang hamper tujuh kiloan. Saya pun sebenarnya pura-pura menolak, alasan tidak perlu,….meski sebenarnya pikiranku sangat mengharap,…karena siapa yang mau kasih kita gula mera secara gratis, lagian penduduk setempat kalau bicara soal gura merah tentu mereka sangat berlebihan, malah surplus, karena memang itulah penghidupan utama bagi mereka, malah sudah terjadi secara turun-temurun.

Dengan pura-pura sok suci, saya berkomentar, janganlah ibu-ibu membiasakan diri menyogok kami gula merah kalau mau pulang, karena tentu saya sangat berat datang kembali, karena jangan-jangan kedatanganku justru karena mengharap imbalan.

Tapi dia lantas menjawab, jangan engkau tolak pemberian penduduk kampung ini, karena itu bagian dari sebuah skenario penghinaan terhadap warga setempat. Alhasil, saya pun menerima denganya riang gembira, dengan mimpi-mimpi ketika sampai nanti di rumah, tentu istriku akan segera membuat kue agar-agar yang merupakan makanan mewah bagi saya dan anak-anakku.

Itulah Tonrong, sketsa wajah pedusunan yang lestari, dengan masyarakat yang ramah dan tenteram,…(sultan darampa*) 

Senin, 26 September 2011

Tonrong, Komunitas Adat Penghasil Gula (1)


Pedusunan Tonrong yang terletak di perbatasan Sinjai – Bone, di Desa Terasa, Kecamatan Sinjai Barat Kabupaten Sinjai – Sulawesi Selatan, merupakan pedukuhan yang memiliki sejarah panjang, dengan penghuni pertama sejak zaman Puangta ri Terasa masih memerintah, kemudian dilanjutkan di zaman pergolakan Di/TII hingga zaman modern seperti sekarang ini.

Dari sekian dekade tersebut, penghidupan komunitas adat Tonrong pun tidak pernah bergeser, meski memang juga terus mengikuti perkembangan, utamanya soal politik tanaman pangan. Jadi kondisinya saat ini, selain masih menggeluti penghasilan gula aren, juga mereka telah berhasil menanam cengkeh, kakao, kopi dan aneka tanaman tahunan lainnya.

 Star dari Makassar dengan menggunakan roda dua, sekitar jam 04.00 subuh melalui rute Makassar – Malino – Tondong (Sinjai). Tiba di Manipi sekitar jam 11.00 siang, dimana sebelumnya transit di kawasan wisata Pinus Malino, menikmati  mie isntansi dan gogos, setela hujan agak reda, kemudian melanjutkan perjalanan dengan potong kompas Kanreapia – Manipi.

Dari Manipi, ibukota Kecamatan Sinjai Barat, sekitar 10 Km kearah timur. Lalu berbelok ke utara (kiri), memasuki Arango, dan dari Arango secara perlahan menembus sekatan-sekatan pegunungan terjal yang merupakan batas Sinjai – Gowa.

Dari Arango, lalu terus ke utara hingga memasuki Desa Bontosalama, yaitu Tanah Lembang. Dari ibukota desa ini, berbelok ke arah timur, (setelah melewati pasar desa dan disamping lapangan), karena beberapa berhenti, maka saya mencapai Tanah Lembang sekitar jam 07.00 malam. Sesudah beristirahat di rumah salah seorang tokoh pemuda disitu, Arfah Cakkari, dengan hujan yang gerimis, maka perjalanan dilanjutkan ke Turunan Baji.

Turunan Baji adalah sebuah perkampungan tua, yang istilah adatnya adalah Soppeng, dan tiba di rumah kawan, Dg.Tiro, yang juga adalah Fasilitator Sulawesi Channel bersama Arfah, sekitar jam 07.30 wita. Setelah mendapat suguhan teh hangat, maka perjalanan motor dilanjutkan hingga diujung perkampungan.

Dari ujung Turunan Baji, perjalanan dilanjutkan dengan kedua tungkai kaki yang sudah mulai loyo, apalagi seharian diguyur hujan, tapi karena semangat ’45, maka ayunan kakipun diteruskan diantara kelamnya malam, dan kelamnya hutan-hutan rakyat.

Lepas hutan-hutan rakyat, saya bersama 3 kawan lain, memasuki hamparan persawahan, dengan hanya mengandalkan lampu HP, kami terus menyusuri pematang-pematang mungil (ciri persawahan di dataran tinggi).

Entah sudah berapa lama melangkah sambil menghindari terjangan anjing-anjing liar yang terus mengaung menengkas suara air deras DAS Tangka / Tanggara’. Dan setelah memastikan diri tiba di pinggiran sungai, maka kami menyeberangi jembatan gantung yang baru saja dibangun masyarakat atas pembiayaan dari proyek PISEW-PNPM.    

Lepas jembatan gantung yang sekitar 80 meter panjangnya itu, kami dihadang pendakian yang sangat panjang (bagi ukuran kami). Saya pun ngos-ngosan, apalagi tidak ada persiapan pemanasan sewaktu masih di Makassar.

Saya tertinggal cukup jauh di belakang, karena berbekal kerel / rangsel dengan peralatan pelatihan, sehingga tidak mampu mengejar kawan-kawan, apalagi factor usia yang memang sangat menentukan daya tahan perjalanan. Karena rasa kepedulian yang tinggi, ransel terpaksa dioper kawan lain.

Alhamdhulillah, sekitar 30 menit kemudian, sekitar pukul 10.30 malam, kami mendapat sambutan yang sangat meriah, yaitu gonggongan anjing dari rumah ke rumah. Sambutan ini justru menambah semangat kami melanjutkan langkah membela pedukuhan itu.

Tak lama kemudian, sampailah kami di rumah Kepala Dusun Tonrong, Syarifuddin, yang terletak di tengah-tengah perkampungan. (sultan darampa)

Sabtu, 10 September 2011

Ulla : Komunitas Adat Kampung Durian


Menongok komunitas adat Ulla yang terletak di jantung gugusan dataran tinggi Bowonglangit Teluk Bone, Desa Mattirowalie, Kecamatan Mare, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, tentu tidaklah mudah. Sepanjang perjalanan yang jaraknya sekitar 30 Km dari poros Bone – Sinjai, memang tergolong jarak yang sangat pendek, tapi untuk mencapainya butuh energi yang prima, karena hanya dapat dijangkau dengan jalan kaki, atau dengan motor.

Motornya pun harus yang terbiasa untuk perjalanan berat, karena selain jalan tanah, apalagi kalau musim penghujan, juga adalah batu-batu gelondongan yang menghadang di atas kepala, belum lagi countur jalan yang membelah puncak-puncak gugusan bukit. Tergelincir sedikit pun, ngarai pun sudah mengangga pada kedalaman 200 hingga 300 meter di dasar jurang.

Dengan jarak tempuh normal sekitar 3 – 4 jam perjalanan naik motor, akhirnya rombongan sampai di Kampung Ulla, dimana sebuah perkampungan adat yang dihuni para nenek moyang ratusan tahun silam. Bahkan hingga kini tapak-tapak perkampungan ini masih menyisahkan ribuan cerita dan sejarah masa lalu.

Tapak-tapak yang masih sangat jelas adalah tumbuhnya pohon durian yang sudah berusia lebih dari seratus tahun, dimana para penduduk setempat, rata-rata mewarisi 3 – 7 pohon durian perkepala keluarga. Batangnya pun tak tanggung-tanggung, berdiameter sepelukan 2 – 3 lingkar tangan orang dewasa.

Menurut kepala Dusun Ulla, Puang, bahwa Ulla adalah saksi sejarah perjalanan Sulawesi yang panjang, utamanya soal kampung ini adalah markas utama DI / TII sector selatan, momok putih, pasukan elit Kahar Muzakkar untuk Kowilham selatan-selatan dibawah pimpinan Bahar Mattaliu.

Setelah masa damai pasca DI / TII dan Gestapu PKI, kampung ini tetap berpenghuni dan hidup damai secara turun-temurun, dimana penduduknya mengabaikan seruan pemerintah republik untuk turun membuat perkampungan baru sepanjang poros Bone – Sinjai.

Sayangnya, karena perkampungan, bahkan wilayah administrasi Desa Mattirowalie, adalah kawasan hutan lindung. Penetapan ini memang sangat disayangkan masyarakat, karena menurutnya, mereka telah menghuni kampung-kampung sepanjang gugusan dataran tinggi Bowonglangit ini semasih pemerintahan Kerajaan Bone, atau sebelum pemerintahan RI terbentuk.

“Kami lebih tua daripada Negara kami yang sangat kami cintai ini, tetapi berpuluh tahun, kami nyaris tidak mendapat perhatian,” katanya. Dan satu-satunya katanya bantuan pemerintah adalah untuk perintasan jalan tanah, tapi itu pun bantuannya tidak datang, sehingga masyarakat terpaksa harus berswadaya untuk menyewa alat berat (mobil dozer) sehingga isolasi yang sudah ratusan tahun mengungkungnya sudah dapat ditembus dengan motor.

Dengan motor ini, hasil-hasil bumi bagi petani Ulla tidaklah diangkut dengan pikulan, menjinjing atau dengan kuda hingga harus bermalam minimal satu malam untuk mencapai pasar kecamatan. “Kami secara turun-temurun menghidupi diri dengan hasil jualan gula merah dan durian. Dari hasil itu, lalu kami beli beras,” Ny.Bunga, yang hanya tammatan pendidikan dasar ini.

Sang ibu rumah tangga ini pun bercerita, sebenarnya kehidupannya tidak terlalu memprihatinkan, meskipun beli beras seandainya jalan yang menghubungkan kampungnya dengan kampung-kampung di lainnya sudah dapat terjangkau dengan baik, karena hanya dengan sistem ojek saja, petani sudah dapat menikmati hasil penjualan durian dan gula merahnya.

Jadi meski masa-masa sulit masih terus bergelayut pada penghidupan masyarakat adat ini, tetapi mereka tetap optimis bahwa suatu waktu nanti “masa cerah” itu akan datang. Optimisme ini pun digantungkan pada pemerintah setempat.

Sabtu, 09 Juli 2011

Ribuan Warga Sambut Jambore Kader Perencanaan


Pameran dan Jambore Kader Perencanaan dan Penganggaran Partisipatif yang digelar di Desa Julubori Kecamatan Palangga Kab.Gowa - Sulsel

Makassar, (KBSC).

Warga Desa Julubori Kecamatan Palangga Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan berinisitif untuk menggelar “jambore kader perencanaan penganggaran partisipatif”. Inisiatif ini bersambut dengan dukungan dari Pemerintah Desa Julubori, Yayasan WaKIL, ACCESS Phase II dan Pemerintah Kabupaten Gowa. Ribuan warga desa, termasuk dari warga desa tetangga memadati perkampungan Dusun Borong Bilalang Desa Julubori.

Jambore yang dilengkapi dengan pameran dari 26 desa di Kabupaten Gowa juga turut dihadiri berbagai kalangan, selain pemerintah, juga datang dari aktivis LSM dan media. Peserta utama yaitu 120 orang dari desa-desa di kabupaten, seluruh pemerintahan desa, pemerintahan kecamatan, SKPD Kab.Gowa, dan unsure-unsur lain.

Jambore ini juga menampilkan berbagai inovasi dan kreasi dari warga dan organisasi warga, termasuk kelompok tani, kelompok tani hutan, kelompok ternak, kelompok pengrajin kue dan anyaman, termasuk kelompok simpan pinjam perempuan yang mendapatkan dana hibah dari program PNPM, PKK, LKMD,BPD, karang  taruna, koperasi, remaja masjid dan organisasi rakyat lainnya.

Dari sekian banyak kreasi yang dipamerkan, diantaranya adalah “kopi tuak”, sebuah menu racikan dari warga dan kader-kader pemberdayaan masyarakat dari Desa Parigi Kecamatan Tinggimoncong. Selama ini, menurut Fasilitatornya M.Natsir Dg.Tola, bahwa masyarakat Parigi sebenarnya sudah lama menggunakan menu-menu tersebut diatas, bahkan dulu, belum dikenal banyak gula pasir, dimana masyarakat minum kopi menggunakan gula aren.

Caranya, adalah menghidangkan air panas dengan seduhan kopi hitam, lalu disamping gelas itu disiapkan juga potongan-potongan kecil gula aren. Jadi ketika kita menkonsumsinya, yaitu langsung minum kopi pahitnya (seperti biasa minum air putih), lalu cepat-cepat masukkan gula aren tersebut ke dalam mulut, sehingga kopi dan gula aren nanti bercampurnya di tenggorokan.

Tapi alhasil, dengan seringnya warga berkumpul dan berdiskusi, yang selama ini intens membuat perencanaan pembangunan di desa, mereka bersepakat bagaimana kalau proses pembuatan gula merah itu tidak semuanya jadi gula merah, tapi ketika cairan dari air nirah itu mulai mendidih, ketika warnanya sudah mulai putih keruh, maka air nirah tersebut diangkat, lalu didinginkan.

Nah, karena prosesnya setengah matang, antara air nirah asli  dan belum jadi kristal atau air mengental, maka rasa dan baunya masih sangat kental. Jadi dengan air setengah jadi gula ini kemudian itu nantinya dicampurkan dalam kopi pahit, dimana air nirah dan kopinya dimasak secara bersama-sama sampai mendidih. Rasanya, mak nyos,…

Kopi tuak ini juga dirasakan oleh sejumlah pengunjung pameran dan jambore, malah Bupati Gowa yang diwakili Asisten I Pemkab Gowa sewaktu usai membuka acara tersebut, sempat melihat proses pembuatan kopi tuak itu. Dg Tola mengakui, kopi tuak ini sudah diurus perizinan hak patennya. (sultan darampa)