SC Office : Jln.Pampang I, No.23C, Makassar - Sulawesi Selatan. Mobile : 081341640799. FB : Sulawesi Channel. Email : sulawesichannelnews@yahoo.co.id.

Senin, 21 Mei 2012

Buton Pencetus Pemerintahan Demokrasi

Sistem demokrasi yang telah berjalan di Indonesia ternyata bukan memang hal baru bagi nusantara, tetapi sistem pemerintahan seperti ini adalah kekayaan lokal suku bangsa tanah air, dan diantara penerapan sistem demokrasi sejak beberapa abad lalu adalah Kerajaan / Kesultanan Buthuuni (Buton).
     Ada beberapa landasan tradisi untuk mengklaim bahwa sistem pemerintahan Kesultanan Buthuuni berjalan secara demokratis dengan nafas Islam, yakni mulai dari sistem pemilihan Sultan (Laki Wolio), dimana terpilihnya Sultan untuk naik tahta adalah berdasarkan pemilihan yang dilakukan oleh Siolimbona (perwakilan atau dewan adat masing-masing komunitas atau wilayah).
     Siolimbona ini dipilih berdasarkan sistem permufakatan yang dipilih oleh rakyat, dan sang Sultan (Raja) sendiri pun tidak didasarkan atas dasar turun-temurun, jadi Sultan di Kesultanan Buton tidak pernah mengenal istilah putra mahkota sebagai lazimnya kerajaan lain di dunia.
     Dalam menjalankan sistem pemerintahannya pun, sang Sultan juga tidak dapat mengambil keputusan sendiri, tetapi harus (selalu) merujuk pada Siolimbona dan segala perangkat kesultanan, termasuk diantaranya para barata. Untuk diketahui Kesultanan Buthuuni memiliki 4 barata (wilayah pemerintahan), yakni Barata Muna dan Tiworo (Kab.Muna sekarang), Barata Kalisusu (Kab.Buton Utara), Barata Kaledupa (Kab.Wakatobi).       
     Salah seorang budayawan Buton, Arif Tasila yang juga Bontona Gampikaro Mataneo (salah satu saya structural kesultanan Buthuuni) mengurai asal muasal Kerajaan Buton, bahwa pendiri Kerajaan Buton memang digagas secara mufakat, dan penggagasnya terdiri dari empat orang.
      Disebut “Mia Patamiana“ , terdiri Si Pajonga, Si Jawangkati, Si Malui dan Si Tamanajo.  Keempat orang inilah yang pertama kali membuat atau membuka daerah baru. Dalam perkembangannya daerah yang baru dibuka tersebut yang mengatur dalam negeri dengan dua orang Bonto, yaitu Sijawangkati sebagai Bontona Gundu-Gundu dan Si Tamanajo sebagai Bontona Barangkatopa. 
    Kemudian ditambah pula dua orang Bonto, yaitu Sangiariarana sebagai Bontona Baluwu dan Betoambari sebagai Bontona Peropa.  Setelah beberapa lamanya lalu ditambah lagi  empat orang Bonto, yaitu : Bontona Gama, Bontona Wandailolo, Bontona Siompu dan Bontona Rakia.  Bonto-Bonto inilah yang mengatur kepentingan dalam negeri.
     Sehingga wilayah Kesultanan Buton meliputi gugusan kepulauan di kawasan bagian Tenggara Jazirah Sulawesi Tenggara yang terdiri dari Pulau Buton, Pulau Muna, Pulau Kabaena, Pulau-Pulau Tiworo, Tikola, Tobeya, Tobeya Besar dan Tobeya Kecil, Pulau Makassar, Pulau Kadatua, Masiri dan Pulau Siompu, Pulau Talaga Besar, Pulau Talaga Kecil, Poleang, Rumbia, Pulau Wawonii, Pulau Wanci, Pulau Tomia dan Binongko.
     Hasil kesepakatan ke-8 Bonto, maka diangkatlah Wa Ka Kaa ( Musrifatul Izzati Al Fakri ) menjadi Raja Buton yang pertama pada awal abad ke 13.  Bontona Baluwu dan Bontona Peropa yang melantik Raja yang pertama sebagai mana adat dan tata cara pelantikan sampai pada Sultan ke 37 ( terakhir ), Sultan Muhammad Falihi.
     Delapan Bonto yang mengangkat dan melantik  Wa Kaa Kaa  menjadi Raja ini diibaratkan “Bapak ( Delapan Bonto )melantik dan mengangkat Wa Kaa Kaa sebagai Anak atau Raja .  Delapan Bonto sebagai Bapak dan Wa Ka Kaa sebagai Anak atau Raja. Dimana Delapan Bonto telah menurunkan kebesarannya dan diberikan kepada anaknya/Raja, dan Anak/Raja menerima pemberian itu atas janji dari Bapaknya dalam bahasa Adat :  “ Ka Angkata tee Ka Muliangi “.
   Ini mengandung arti bahwa Wa Kaa Kaa telah diangkat sebagai Anak atau Raja dari Delapan Bonto yang sifatnya telah menjadi bayi yang baru lahir dalam arti : diberi baru menerima, disuap baru menganga dan kerjanya hanya menangis dan tertawa yang dikenalnya. 
     Sedangkan untuk Bapak ( Delapan Bonto ) adalah kekuasaan penuh pada mereka dan apa-apa yang menjadi keperluan dan kebutuhan Anak atau Raja adalah tanggungan Bapak.  Inilah yang disebut dengan “adatu azali”. (sultan darampa)

Penobatan Sultan Buton


Setelah cukup lama vakum, sekitar 52 tahun, sejak mangkatnya Sultan Buthuuni yang ke-37, La Ode Muhammad Falihi pada tahun 1960, maka pada Hari Jumat, tanggal 19 Mei 2012, di Baruga Keraton Kesultan Buton, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, akan dinobatkan H.La Ode Muhammad Jafar SH sebagai Sultan Buton ke-39. 
     Ketua Panitia Penobatan Sultan Buton (Bulilingiyana Pau Laki Wolio), La Ode Ahmad Manise, S.Pd, dan sekretarisnya Ir.Asrun Addin mengurai, Kerajaan Buthuuni (Buton) adalah kerajaan yang berdaulat sejak abad ke-13, dan kemudian mengubah status pemerintahannya menjadi Kesultanan Buthuuni pada 1 Ramadhan 948 hijriyah (1540 masehi), ketika itu agama Islam resmi menjadi agama kesultanan.
     Kesultanan Buhtuni telah menetapakan sistem pemerintahan yang modern, struktur pemerintahan yang lengkap dengan mencakup segala bidang, pembagian wilayah antara pusat dan daerah dengan masing-masing memiliki kedaulatan sendiri-sendiri selama 7 abad. Namun pada akhirnya,Sultan Buton ke-37, La Ode Muhammad Falihi mangkat tahun 1960, dan sejak itu Kesultanan kekosongan pucuk pemimpinan.
     Akhirnya, pada tanggal 12 Pebruari 2011 tahun lalu, tokoh adat dan budaya se-Kesultanan Buthuuni menggagas pertemuan di Baruga Keraton Buthuuni dengan menghasilkan kesepakatan bersama. “yakni membentuk kembali perangkat Kesultanan Buthuuni dan nama Lembaga Adat Kesultanan Buton yang diawali dengan pembentukan Siolimbona.
    Lalu pada tanggal 22 Mei 2011,  juga pada tempat yang sama, telah dikukuhkan Siolimbona yang disaksikan langsung oleh Pitu Puluh Rua Kadie dan Pata Barata wilayah kesultanan. Selanjutnya, Siolimbona bertugas untuk memilih, menentapkan dan melantik Laki Wolio (Sultan Buthuuni).
    Tahapan adat Siolimbona dalam pemilihan, penetapan dan pelantikan Laki Wolio (Sultan Buthuuni) adalah (1) Tiliki, (2) Buataka Katange, Kambojai, dan Paso, (3) Fali, dan Sokiana Pau, (4) Bulilingiyana Pau Laki Wolio (penobatan Sultan).
    Berdasarkan prosedur adat pelaksanaan Bulungiyana Pau Laki Wolio (penobatan Sultan Buthuuni) dilaksanakan 120 hari setelah Sokayana Pau (penobatan Sultan), sehingga tanggal 19 Mei 2012, bertempat di Baruga Keraton Buthuuni telah dilakukan Ritual Sokayana Pau Laki Wolio . (sultan darampa)

Jumat, 11 Mei 2012

Perkampungan Industri Tenun Tradsional

  Seorang usahawan muda dunia pertenunan nasional, Juwita mengatakan, sehubungan lagi trend dan permintaan pasar hasil tenun tradisional lagi naik daun, bahkan permintaan pun membludak, sementara produksi yang masih minim, maka mendesak untuk dibangun pusat kawasan industry tenun tradisional di Kota Kendari.

     Menurutnya, yang ada selama ini hanya pusat-pusat pameran atau pusat penjualan hasil-hasil kerajinan, salah satu diantaranya adalah di Sompu Opu, Makassar, tetapi untuk pusat produksi, utamanya hasil-hasil kerajinan, itu yang belum ada di Sulawesi.
     “Olehnya itu, penting untuk semua pihak, termasuk intansi pemerintah memikirkan sebuah perkampungan (kawasan) produksi tenun tradisional di Sulawesi Tenggara, atau di Kendari,” ungkap perempuan kelahiran Sengkang – Wajo ini.
     Dia mengakui, memang ada satu kawasan di Kabupaten Wajo – Sulawesi Selatan yang merupakan basis industry tenun yang dikelola secara turun-temurun, bahkan di dalam kampung itu setiap rumah memiliki alat pemintalan tenun, meski itu masih sederhana.
      Tapi apa yang dimiliki Wajo ini, rasanya memang jauh dari cukup, apalagi untuk kebutuhan Sulawesi Tenggara yang tentu mengandalkan corak khas tenun daerah ini. “Corak Kendari, To Laki, Mekongga, Buton, Muna dan Moronene, harus dibikin oleh pengrajin daerah ini, kita tidak mungkin mengandalkan pihak luar daerah, atau mendatangkan pengrajin dari luar untuk mengelola asset kita,” tambahnya.
   
  Ia mencontohkan, industry tenun yang dikelolanya selama ini sudah cukup berhasil, dengan mengandalkan tenaga kerja sekitar 10 orang, dengan rata-rata gaji Rp 2 juta sampai RP 3 juta perbulan, masih jauh dari pemenuhan permintaan pasar, malah untuk permintaan Kota Kendari, seperti pakaian pegawai (PNS) saja masih kewalahan.
     “Memang kita lagi beruntung, dengan gebrakan dan bimbingan serta promosi yang tak henti-hentinya dari Ketua Derkranasda Sulawesi Tenggara, Ny.Tina Nur Alam, maka tenun Sultra mengalami kemajuan luar biasa, bahkan sampai industry dan mode internasional pun menggandrunginya,” cetusnya.
     Dengan adanya perkampungan tenun tradisional yang dikelola secara professional, maka otomatis itu sangat membantu ekonomi keluarga, utamanya perempuan, karena memang rata-rata pengrajin itu perempuan, sehingga dengan adanya kawasan industry tenun tradisional ini kemungkinannya bukan hanya sekedar membantu ekonomi keluarga, malah bisa menjadi penghasilan utama keluarga.                                               (nining)

Rp 350 Juta, ADD / ADK Bombana


Gebrakan pasangan Bupati H.Tafdil bersama wakilnya Ir. Hj.Masyhura dalam mewujudkan pembangunan Kabupaten Bombana ke depan semakin menggairahkan arah dan proses dalam peningkatan kesejahteraan masyarakatnya.
    Salah satu kebijakannya yang dinilai menjadi kebutuhan riil bagi masyarakat Bombana adalah terdongkraknya alokasi dana desa (ADD) dan alokasi dana kelurahan (ADK) menjadi Rp 350 juta setiap tahunnya.
     Peningkatan bantuan pada aspek pemberdayaan, peningkatan kapasitas sumber daya lokal hingga pada pembenahan infrastruktur kabupaten terangkum dalam idiom-idiom “gerakan membangun masyarakat Bombana (GEMBIRA)”. 
   Kemudian pada aspek peningkatan sumber daya manusia (SDM) ini, Wakil Bupati Ir.Hj.Masyhura lebih focus pada pengembangan bidang keagamaan. Untuk keagamaan, Ir.Hj.Masyurah sendiri juga turut langsung mempersiapkan segala kebutuhannya sampai ke kecamatan dan desa-desa.
     “Kita telah mengadakan training of training (TOT) para guru mengaji pada setiap desa-desa dan kelurahan. Nantinya, hasil TOT ini-lah yang kemudian memastikan pelaksanaan pengajian pada setiap kelompok-kelompok yang sudah dibentuk,” kata Masyhura.
     Guna lebih mengintensifkan cara kerja para guru mengaji, maka Pemerintah Kabu-paten secara rutin telah mengeluarkan biaya rutin peng-gajian, atau honor, pada setiap bulannya bagi setiap guru mengaji. 
 Pengarusutamaan pada bidang ke-agamaan ini karena memang kondisi masyarakat Bombana yang masih sangat agamais, apalagi memang Bombana dihuni penduduk yang mayoritas Islam, sekitar 90 persen.
      Sehingga dengan program ini pun juga menjadi bagian dari rencana pihak lembaga pengembangan tilawatil qur’an (LPTQ) propinsi Sulawesi Tenggara. Meski demikian, Masyhura  juga menyadari bahwa LPTQ tahun-tahun sebelumnya memang tidak mengalami lonjakan progres kegiatan.
      Jadi baik kerangka kegiatan keagamaan di Bombana maupun dalam skema pengembangan LPTQ, maka Masyhura juga intens memantau kegiatan pengajian-pengajian yang terus dilakukan di masjid, atau di tempat-tempat yang sudah disepakati sebelumnya.   
    “Saya sendiri turut juga membuka TPA Al-Husnah. Jadi kalau sore saya mengajar anak-anak mengaji di rumah jabatan, sehingga kalau sudah sore saya beralih profesi dan dipanggil sebagai ibu guru mengaji, kecuali kalau pagi hingga siang tetap dipanggil sebagai ibu wakil bupati,” tawanya.
    Ia pun menceritakan bahwa anak-anak yang mengaji di rumah jabatan yakni mulai usia belajar antara kelas I SD sampai kelas 6 SD. Dan latarbelakang murid-murid pengajian ini pun datang dari sekitar rumah jabatan, sehingga pesertanya bukan hanya anak-anak pejabat, tetapi juga yang orang tuanya profesi sebagai petani atau profesi lain.
     Untuk itu, maka Masyhura berharap beberapa tahun ke depan, Bombana sudah terbebas dari buta aksara Alqur’an. “Jadi selain sebagai amal ibadah, juga merupakan program pemerintah, program kami yang tertuang dalam visi-misi kami sebelumnya,” kata istri Ilah Ladamay (staf Ahli di Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara ini).
     Menurutnya, perhatian ini bukan hanya terhadap guru mengaji, tapi yang tak kalah pentingnya adalah juga pembinaan majelis taklim yang terus dibenahi dan diperkuat, bahkan dengan kelompok-kelompok pengajian ibu-ibu, baik di masjid maupun di tempat lain, sehingga memang Bombana sekarang ini lagi semarak dengan kegiatan-kegiatan keagamaan, utamanya pada sore hari hingga menjelang Isya.
     “Kemeriahan” ini juga tetap harus dikontrol, atau dievaluasi secara berkala. “Makanya setiap minggu, saya target dua kecamatan yang dikunjungi,” tambahnya. Untuk itu, Masyhura harus menjangkau 22 kecamatan (hasil pemekaran dari 6 kecamatan) secara bergilir dan kontinyu.  “Khusus tugas pemantauan dan evaluasi ini saya nikmati betul-betul,” jelasnya. (nining)

Menembus Darwin dengan Sandeq


Para pelaut ulung yang menjejakkan kakinya di Darwin Australia itu adalah dari Tim Korps Pencinta Alam (Korpala) Universitas Hasanuddin merapat di Darwin, Australia, 21 November 2011, setelah berlayar selama 40 hari sesuai waktu yang dijadwalkan. Para pelaut perkasa itu terdiri atas Ahmad (Fakultas Hukum), Guswan Gunawan (Fisip), Abdul Jalal (Teknik), Fadli (Peternakan), Rusmin (Teknik), dan Lukman mahasiswa S-2 (Ekonomi). Bertindak sebagai nakoda adalah Abdul Jalal.
    Rektor Unhas Prof.Dr.dr.Idrus A.Paturusi yang disertai Wakil Rektor I Prof.Dr.Dadang Ahmad Suriamiharja, Wakil Rektor II Dr.dr.Andi Wardihan Sinrang, M.S. Dan beberapa stafnya, Rabu (23/11) menyambut resmi para pelaut ulung Unhas itu di Darwin 23 November 2011 di Pantai di depan Darwin Sailing Club yang berdiri sejak tahan 1963.
     Dengan adanya perahu sandeq Unhas ini, maka hingga kini sedikitnya ada tiga perahu dari Sulawesi Selatan yang disimpan di Darwin, yakni dua perahu (jenis Padewakang ‘Hati Marege’ dan Lambo yang disimpan di Gallery and Art Museum) Northern Territory, Darwin. Hati Marege berlayar ke Darwin Desember 1987 dan tiba di Darwin 16 Januari 1988 dengan 13 pelaut Sulawesi Selatan yang dipimpin Peter Spillet yang meninggal dunia Desember 2004 di Bali.
    Salah seorang di antara pelaut itu, Mansyur Muhayyang, juga bertemu dengan saudara ‘jauh’-nya di Darwin yang bernama Matjuwi. Mereka menangis sambil berpelukan ketika bertemu.
   Berdasarkan data yang diperoleh Unhas di Gallery and Art Museum Northern Territory. Pada tahun 1640, Australia termasuk salah satu bagian wilayah ekspansi Kerajaan Gowa di bawah pimpinan Sultan Hasanuddin. Oleh sebab itu, diperkirakan pada tahun tersebut orang-orang Makassar sudah menginjakkan kakinya di Darwin Australia.
    Wakil Konsul Indonesia di Darwin, Nadia Sumampouw ketika bertemu dengan Rektor Unhas Prof.Dr.dr.Idrus A Paturusi dan rombongan, Jumat (25/11) menjelaskan, hubungan historis antara Darwin dengan Makassar selalu menjadi wacana yang mengakrab ketika Wakil Perdana Menteri Northern Territory menyampaikan kesannya saat bertemu dengan Konsuler Indonesia di Darwin.     
    Setelah tiba di Darwin, perahu yang diberi nam a BIRU LANGIT (Blue Sky) itu Akan menghuni Museum Kota Darwin. Rabu (23/11)  sore, perahu sandeq sepanjang sepuluh meter dengan lebar dan tinggi sekitar 90 cm itu ditarik menggunakan trail ke darat. Sebelum ditarik, Rektor Unhas, Wakil Rektor I, II, dan Dekan FKIP Unhas Prof.Dr.Ir,Andi Niartiningsih, MP menyemoatkan  berlayar perpisahan dengan perahu yang sudah menapaktilasi perjalanan. Pelaut Sulawesi menangkap taripang di Australia Lima abad silam.
    Warga Darwin, khususnya angora  Darwin Sailing Club menyambut gembira kedatangan para mahasiswa yang menu rut mereka sebagai "the crazy" (si gila)' karen a keberanian mereka berlayar dengan menggunakan perahu kecil melintasi Samudra Hindia Dan Laut Arafuru.
    Sebagai bentuk sambutan mereka terhadap para mahasiswa itu, warga Australia itu Akan mengajaknya nenikmati beberapa tempat rekreasi di ibu Kota Northern Territory tersebut. (habis)
(m.dahlan abu bakar)

Agenda FKN - Kesultanan Wolio Bhuutuni


Festival Keraton Nusantara (FKN) VIII yang dipusatkan di Keraton Kesultanan Bhutuni Kota Baubau, resminya dimulai tanggal 2 hingga 4 September 2012. Untuk itu, pihak panitia telah mengeluarkan maklumat rentetan kegiatan sebagai berikut :
·         Forum festival keraton nusantara
·         Welcome dinner
·         Pembukaan festival keraton nusantara VIII
·         Kirab agung prajurit keraton kesultanan
·         Pameran benda-benda pusakan keraton dan royal food festival (kuliner)
·         Kesenian tarik klasik dan peragaan busana keraton
·         Dialog budaya dan musyawarah para sultan atau raja
·         Penutupan FKN VIII
·         Forum Festival Keraton Nusantara
Forum Festival Keraton Nusantara dilaksanakan tanggal 1 September 2012 bertempat di Baruga Keraton Wolio Kota Baubau pada pagi hari, session ini merupakan pertemuan pewaris keraton dari seluruh keraton di Nusantara.
     Pertemuan ini membahas masalah yang menyangkut materi acara yang digelar pada Festival Keraton Nusantara, baik evaluasi maupun rencana festival keraton selanjutnya. Forum ini diharapkan mampu menetapkan acara standar minimal yang harus dilaksanakan oleh tuan rumah berikutnya, tempat penyelengaraan yang akan datang dan lain sebagainya yang menyangkut festival keraton nusantara.
     Berhubung acara ini dilaksanakan pada tanggal 1 September 2012, maka diharapkan kepada seluruh pimpinan rombongan FKN agar tiba sehari sebelum acara Pembukaan Festival Keraton VIII.
Welcome Dinner
Seluruh pewaris / sesepuh keraton, tokoh adat, budayawan dan tamu undangan lainnya, akan menghadiri acara selamat datang (welcome dinner) dari tuan rumah Kota Baubau Pusat Keraton Kesultanan Buton.
Pembukaan FKN
Pembukaan Festival Keraton Nusantara VIII dilaksanakan pada tanggal 2 September 2012 bertempat di Maedani Betoambari pada siang hari, dan dihadiri oleh seluruh pewaris, sesepuh keraton dan tamu undangan lainnya.
Kirab Agung
Diharapkan kehadiran seluruh Pewaris / Sesepuh Keraton dan tamu undangan lainnya.
    Seluruh prajurit dari keraton se-nusantara berbaris sesuai keratonnya masing-masing saat upacara pembukaan dan selanjutnya kirab agung atau parade budaya prajurit keraton.
Pameran Benda Pusaka
Pameran dilaksanakan pada tanggal 2 – 4 September 2012, siang dan malam bertempat di Gedung Maedani Betoambari. Materi pameran terfokus pada upaya mengekspos representasi kekayaan dan keragaman nilai-nilai budaya masing-masing keraton peserta Festival Keraton Nusantara VIII yang dapat dikategorikan pada tiga bagian, sebagai berikut :
Bagian Benda Pusaka Keraton
Pada bagian ini masing-masing Keraton menampilkan benda-benda pusaka yang diunggulkan (Masterpiece) yang dapat berupa mahkota, senjata, tanda kebesaran keraton.
   Bagian Simbol dan Lambang Keraton. Pada bagian ini masing-masing keraton menunjukkan kekhasannya dengan dimanifestasikan dalam simbol dan lambang yang dapat berupa bendera, panji dll.
Bagian Foto Kuno
Pada bagian ini masing-masing keraton menampilkan foto dokumentasi yang menggambarkan berbagai bentuk aktivitas budaya maupun peristiwa penting yang terjadi tempo dulu.
Ketentuan Teknis Pameran :
Benda-benda yang dipamerkan diharapkan merupakan replika benda-benda pusaka keraton atau berupa foto dan sejenisnya.
    Panitia penyelenggara menyediakan tempat pameran, menyiapkan penataan ruang, keamanan internal di ruang pameran serta berbagai bentuk informasi dan publikasi lainnya.
     Keraton sebagai peserta pameran mengirimkan materi kepada Panitia penyelenggara maksimal 3 (tiga) benda disertai foto dan ukuran benda serta historis benda tersebut.
Pemandu pameran menggunakan pakaian daerah masing-masing, informasi tentang materi pameran dan mampu melayani setiap pengunjung dan selalu siap ditempat pameran. Tempat yang disediakan panitia untuk seluruh peserta bersifat pameran bersama.
Royal Food Festival
Merupakan festival makanan tradisional dari keraton yang ada dan masih disajikan saat ini oleh daerah masing-masing. Makanan yang difestivalkan adalah makan utama yang lengkap termasuk suguhan awal dan akhir.
Ketentuan Teknis Festival :
·         Fasilitas tempat pameran disediakan panitia
·         Peserta membawa sendiri perlengkapan makanan
·         Tidak diperkenankan memasak di lokasi pameran
Rincian persyaratan mengikuti royal food festival akan disampaikan kemudian.
Kesenian Tari Klasik
Merupakan jenis tari klasik keraton yang menjadi unggulan dan masih dipentaskan hingga saat ini.  Ketentuan Teknis :
Tiap tim kesenian keraton disediakan waktu pentas maksimal 30 (tiga puluh) menit
·         Pelaksanaan tari klasik keraton merupakan suatu kesatuan  pertunjukkan dengan peragaan busana adat pengantin keraton pada tanggal 2 – 3 September 2012.
·         Tempat pelaksanaan kegiatan di Pantai Kamali pada waktu sore – malam hari.
·         Peralatan spesifik dari masing-masing peserta apabila menggunakan iringan hidup diharapkan membawa sendiri, jika memakai kaset, VCD maupun flash disk, panitia akan menyediakan peralatannya.
Peragaan Busana Keraton
Peragaan Busana Keraton merupakan kegiatan “Busana Adat Pengantin Keraton”dan masih digunakan hingga masa kini.
Ketentuan Teknis :
Peragaan busana ini merupakan bentuk dari bagian prosesi upacara adat pengantin keraton
Tanggal pelaksanaan kegiatan 2 – 3 September 2012 bertempat di Pantai Kamali
Prosesi upacara adat pengantin Keraton ini dikemas dalam bentuk pertunjukkan dengan busana pengantin lengkap (seperti aslinya) dengan diiringi musik pengiring dan disertai pembacaan narasi untuk memperjelas kelengkapan prosesi tersebut. Peragaan busana adat pengantin keraton ini dikemas bersama dengan pergelaran kesenian tari klasik.
Dialog Budaya
Seminar ini merupakan eksperimen untuk mendialogkan berbagai macam kearifan lokal. Dengan cara ini, nilai-nilai lokal dihidupkan dan diajak untuk berdialog menyikapi tantangan zaman.
     Sesuai dengan Tema Festival Keraton Nusantara VIII “NUSANTARA PUSAKA DUNIA”  tema seminar ini mendukung tema besar yaitu “Merajut Kearifan Budaya Lokal “Bincibinciki Kuli” Sebagai Perekat Persatuan dan Kesatuan Bangsa “
Ketentuan Teknis :
·         Kegiatan ini dilaksanakan tanggal 4 September 2012 pagi hari, bertempat di Baruga Keraton Wolio Buton Kota Baubau
·         Peserta dialog budaya merupakan paraseluruh pewaris / sesepuh keraton, pemangku adat, budayawan, cendekiawan dan tokoh masyarakat serta utusan FKN.
·         Kegiatan dialog budaya pelaksanaannya dirangkaikan dengan Musyawarah para Sultan / Raja.
Musyawarah para Sultan / Raja
Musyawarah Para Sultan / Raja ataupun utusan FKN di lakukan untuk menentukan daerah pelaksana FKN selanjutnya.
     Musyawarah dilaksanakan pada tanggal  4 September 2012 sore hari bertempat di Baruga Keraton Wolio Buton dan di laksanakan setelah acara dialog budaya.
Penutupan Festival
Akan dilaksanakan tanggal 4 September 2012 malam hari. Diharapkan hadir seluruh pewaris / sesepuh keraton nusantara dan tamu undangan lainnya.
      Akan dibacakan rekomendasi dialog budaya dan musyawarah para Sultan / Raja yang merupakan pesan-pesan budaya yang perlu diperhatikan oleh pemerintah dalam menjalankan roda pemerintahan dimasa yang akan datang.(dispar baubau)

Jumat, 04 Mei 2012

SAGORI : Segitiga Bermuda Indonesia


Bagi sebagian masyarakat Sulawesi Tenggara, nama Sagori bukan lagi hal baru.  Tapi nama ini seolah-olah hanya nama kapal cepat rute Baubau-Kendari. Padahal ada nama tempat yang jauh lebih eksotik, lebih indah dan alami, sekaligus lebih misteri daripada hanya nama sebuah kapal. Bahkan nama kapal ini diambil dari tempat itu, atau dari pulau itu, yaitu Pulau Sagori.
   Pulau Sagori, Kabaena, Sulawesi Tenggara, kerap dinikmati oleh turis mancanegara sebelum tragedi bom Bali Oktober 2002. Pulau itu menyimpan misteri, antara lain seringnya kapal karam. Pantas banyak yang menyebutnya Segitiga Bermuda di Kabaena.
    Pulau Sagori di Kecamatan Kabaena, Kabupaten Bombana, itu merupakan karang atol berbentuk setengah lingkaran. Pulau tersebut tak lebih dari onggokan pasir putih dengan panjang sekitar 3.000 meter dan pada bagian tengah yang paling lebar, 200 meter.
    Wisatawan asing biasanya singgah di pulau itu dengan kapal pesiar setelah mengunjungi sejumlah obyek wisata di Kabupaten Buton dan Muna. Di Sagori mereka berjemur di atas pasir putih sambil menunggu bola matahari yang perlahan meredup saat hendak terbenam. Seusai menyaksikan gejala alam yang mengagumkan itu mereka pun melanjutkan perjalanan.
   Sagori sebetulnya lebih menarik jika dilihat dari pegunungan di Pulau Kabaena. Dari ketinggian jarak jauh itu Sagori menampilkan sapuan empat warna, yakni biru tua sebagai garis terluar, biru muda, garis putih, kemudian hijau di tengah. Warna hijau bersumber dari tajuk-tajuk pohon cemara yang melindungi pulau tersebut.
   Jarak terdekat dengan daratan Kabaena sekitar 2,5 mil. Namun, pengunjung biasanya bertolak dari Sikeli, kota pelabuhan di Kecamatan Kabaena Barat, dengan jarak sekitar empat mil atau sekitar 30 menit dengan perahu motor.       Kata ”sagori” konon diambil dari nama seorang gadis yang ditemukan warga Pongkalaero (kini sebuah desa di Kabaena) pada saat air surut tak jauh dari pulau itu. Gadis itu diceritakan menghuni kima raksasa yang terjebak karena air surut.
   Saat ditemukan, gadis tersebut dalam keadaan lemah tak berdaya. Para pemburu hasil laut kemudian menggendongnya ke sebuah onggokan pasir sebelum dibawa ke Mokole (raja) di Tangkeno di Lereng Gunung Sangia Wita, puncak tertinggi (1.800 meter) di Kabaena.
    Namun, setelah beberapa saat diistirahatkan di onggokan pasir, gadis tersebut meninggal dunia. Sebelum meninggal ia sempat menyebut namanya, Sagori. Sejak itu penduduk menamakan onggokan pasir itu Pulau Sagori.

Kuburan kapal
Keindahan Sagori di atas permukaan sangat kontras dengan kondisi alam dasar laut di sekitar pulau tersebut. Belantara batu karang yang terhampar di kawasan perairan pulau itu menyimpan misteri yang menyulitkan para pelaut, bahkan tidak jarang membawa petaka yang amat menakutkan.
   Seperti diungkapkan beberapa tokoh masyarakat suku Sama (Bajo) di Kabaena, karang dan perairan Pulau Sagori hampir setiap dua tahun menelan korban berupa kapal pecah karena menabrak karang maupun korban manusia yang dibawa hanyut gulungan ombak pantai pulau tersebut.
    Tragedi musim libur telah menelan korban, misalnya, seorang siswa SMA Negeri 1 Kabaena tewas dihantam ombak yang datang mendadak saat dia bersama sejumlah temannya mandi-mandi di pantai. Sebelumnya, seorang ibu mengalami nasib serupa tatkala sedang mandi-mandi di sana.
   Menjelang Lebaran masih kejadian yang sama, sebuah kapal kayu kandas kemudian tenggelam di perairan pulau itu saat kapal dalam perjalanan dari Sikeli menuju Jeneponto, Sulawesi Selatan. Tidak ada korban jiwa, kecuali kapal tak dapat diselamatkan. (azis sennong - antara)