Kalau tak aral melintang, Yayasan WaKIL dengan dukungan dari ACCESS-AusAID akan menggelar lokakarya penjajakan penyusunan rencana aksi pelaksanaan agenda kabupaten (PAK) Gowa.
Tujuan dari lokakarya ini, adalah melakukan ferivikasi data dan informasi temuan hasil penjajakan lapangan oleh tim fasilitator organisasi pelaksana dengan berbagai elemen masyarakat, misalnya dari warga penerima dampak, calon mitra langsung WaKIL, mitra strategis, dll.
Melakukan perumusan penyusunan visi, misi, perubahan utama, penanda kemajuan dan peta strategis untuk rencana aksi bersama organisasi pelaksana dengan berbagai elemen masyarakat. Dan membangun agenda-agenda bersama dengan elemen masyarakat didalam mendorong pengelolaan pemerintahan desa yang partisipatif di Kabupaten Gowa.
Kegiatan ini akan dilaksana, hari Selasa, Tanggal 19 Januari 2010, mulai pukul 09.00 WITA pagi, bertempat di Aula Kantor Bappeda Kabupaten Gowa, Jln Tumanrung Kota Sungguminasa, Sulawesi Selatan.
Direktur Eksekut WaKIL, Kaharuddin Muji mengatakan, lokakarya ini adalah rangkaian dari aksi penjajakan untuk rencana aksi perencanaan partisipatif dalam penyusunan RPJMDes Kabupaten Gowa.
“Harapan saya, agar seluruh rangkaian penjajakan yang diagendakan sampai akhir Januari ini dapat berjalan sesuai mimpi kita semua,” urainya. (s.darampa)
SC Office : Jln.Pampang I, No.23C, Makassar - Sulawesi Selatan. Mobile : 081341640799. FB : Sulawesi Channel. Email : sulawesichannelnews@yahoo.co.id.
Kamis, 14 Januari 2010
Training OM bagi Gowa - Takalar
Setelah ACCESS-AusAid melakukan implementasi program di Kabupaten Bantaeng dan Jeneponto, maka kini ACCESS akan melebarkan programnya di dua kabupaten tambahan, yakni Kabupaten Gowa dan Takalar Sulawesi Selatan.
Sebelum implementasi program beberapa tahapan yang harus dilalui oleh calon mitra langsung ACCESS diantaranya adalah orientasi outcome mapping. OM ini adalah salah satu metode learning bagi masyarakat atau komunitas.
Lanjutan training OM ini adalah penjajakan, dan bagi LSM atau calon mitra langsung ACCESS di dua kabupaten tersebut diberi waktu sekitar satu bulan, selama Januari 2010, untuk melakukan penjajakan, atau training need assessment sesuai isu atau tematik yang diusung oleh 11 LSM dari dua kabupaten tersebut.
Koordinator Propinsi (Koordprop) ACCESS Sulawesi Selatan, Sartono, yang akrab dipanggil Pak De, mengungkapkan, orientasi OM ini adalah keharusan bagi calon-calon mitra ACCESS. Karena tools ini memuat berbagai metodologi yang berorientasi partisipatif.
“ACCESS telah mensyaratkan GSI (gender social inclusive) dan TKLD (tata kelola local demokratif) sebagai prinsip-prinsip dalam mendorong berbagai isu-isu program di masyarakat. Misalnya setip proses yang dilaksanakan secara kuantitas harus meanstreaming gender 50 : 50,” kata Pak De.
Menurutnya, 50 : 50 (perbandingan prosentase 50 persen perempuan dan 50 persen laki-laki) adalah upaya nyata untuk mendorong secara aktiv perempuan-perempuan dalam berbagai profesi dan level ikut terlibat secara langsung.
Tetapi yang lebih penting dari prosentase 50 : 50, adalah bagaimana perempuan, orang-orang miskin dan kaum terpinggirkan, merupakan actor utama dalam setiap proses atau aktivitas yang berjalan. “Jadi intinya bukan saja mereka terlibat secara fisik, tetapi jauh lebih diimpikan adalah terjadi perubahan perilaku positif bagi perempuan, orang-orang miskin dan kelompok terpinggirkan,” ungkapnya.
Diakuinya, selama ini, perempuan diposisikan sekadar pelengkap dari setiap isu-isu strategi dan perencanaan-perencanaan pembangunan yang dilaksanakan. “Jadi melalui program ini, maka ACCESS memiliki tanggungjawab moral untuk pemberdayaan perempuan lebih nyata,” sambungnya.
ACCESS – AusAID di Sulsel diperkuat sejumlah fasilitator, selain Sartono, Juju, Ratna Arasy, Sari, dan beberapa personil admin. (s.darampa)
Minggu, 10 Januari 2010
Pabrik Kertas Berbahan Baku dari Jagung
Direktur PT Panua Lestari Pahuwato, Dahlan Usman SE mengungkapkan, sejak diminta menangani BUMND Gorontalo, pihaknya langsung mendesaign system manajemen yang akan dikembangkannya ke depan.
“Prioritas kami memang langsug pada pengembangan agribisnis, selain karena alasan rencana strategi pembangunan jangka pajang da menengah propinsi Gorontalo, juga karena potensi propinsi yang strategis di dalam pengembangan agribisnis,” ungkapya.
Hal itu terjadi, karena selain karena tofografinya, juga system jalur perdagangan trans daratnya yang berbatasan dengan Sulawesi Tenggah ataupun dari arah Sulawesi Utara.
Selain dukungan trans darat, juga support prasarana lautnya, seperti pelabuhan yang langsung menguhubungkan selat Makassar di sebelah barat, maupun akses Asia seperti China dan Philipina dengan Selat Banda atau Laut Sulawesi di sebelah timur.
Dahlan juga mengungkapkan, selain kemampuan ekspor jagung secara permanen ke sejumlah negara di Asia, disamping pemenuhan stok jagung nasional, kini tengah dikembangkan teknologi pemanfaatan pasca limbah jagug.
“Limbah-limbah jagung hasil sortiran untuk bahan baku ekspor akhirnya tidak dibuang percuma seperti yang dulu,jadi limbah tersebut akan diolah untuk bahan baku kertas,” ungkap Dahlan.
Dengan hadirnya pabrik kertas tersebut, maka semakin menambah devisa Propinsi Gorontalo dan secara nasional semakin membantu pengadaan kebutuhan kertas dalam negeri.
Diakui Dahlan, teknologi pembangunan pabrik kertas berbahan baku limbah jagung masih tergolong baru di Indonesia, karena selama ini bahan baku kertas biasanya menggunakan serbuk kayu dari hutan alam tropis Indonesia.
“Jadi kehadiran teknologi ini sangat membantu industri kertas Indonesia,” kunci Dahlan. (s.darampa)
“Prioritas kami memang langsug pada pengembangan agribisnis, selain karena alasan rencana strategi pembangunan jangka pajang da menengah propinsi Gorontalo, juga karena potensi propinsi yang strategis di dalam pengembangan agribisnis,” ungkapya.
Hal itu terjadi, karena selain karena tofografinya, juga system jalur perdagangan trans daratnya yang berbatasan dengan Sulawesi Tenggah ataupun dari arah Sulawesi Utara.
Selain dukungan trans darat, juga support prasarana lautnya, seperti pelabuhan yang langsung menguhubungkan selat Makassar di sebelah barat, maupun akses Asia seperti China dan Philipina dengan Selat Banda atau Laut Sulawesi di sebelah timur.
Dahlan juga mengungkapkan, selain kemampuan ekspor jagung secara permanen ke sejumlah negara di Asia, disamping pemenuhan stok jagung nasional, kini tengah dikembangkan teknologi pemanfaatan pasca limbah jagug.
“Limbah-limbah jagung hasil sortiran untuk bahan baku ekspor akhirnya tidak dibuang percuma seperti yang dulu,jadi limbah tersebut akan diolah untuk bahan baku kertas,” ungkap Dahlan.
Dengan hadirnya pabrik kertas tersebut, maka semakin menambah devisa Propinsi Gorontalo dan secara nasional semakin membantu pengadaan kebutuhan kertas dalam negeri.
Diakui Dahlan, teknologi pembangunan pabrik kertas berbahan baku limbah jagung masih tergolong baru di Indonesia, karena selama ini bahan baku kertas biasanya menggunakan serbuk kayu dari hutan alam tropis Indonesia.
“Jadi kehadiran teknologi ini sangat membantu industri kertas Indonesia,” kunci Dahlan. (s.darampa)
SALU RANTE, Tanah Eksotik Warisan Sawerigading
Luwu Utara adalah negeri peninggalan Sawerigading yang kaya akan potensi alam. Utamanya ekosistem hutan primer, dan agricultrue, seperti alvokat, ataupun jenis padi-padian.
Diantara desa-desa dan pedukuhan yang sejuk itu, terdapat sebuah perkampungan yang paling ujung dari Kecamatan Limbong, yakni Salu Rante, yang artinya kampung yang terkepung sungai.
Mencapai Salu Rante, membutuhkan waktu tempuh sekitar 6 hingga 8 jam dari Sabbang atau Masamba, ibukota Kabupaten Luwu Utara.
Gunung,… bukit dan lembah mengapit kirin-kanan. Jalan berbatu dan berliku, adalah pemandangan yang tak lazim ketika melewati sejumlah perkampungan menuju Rongkong.
Setelah terantuk-antuk di atas motor selama 8 jam lebih dengan mengambil star di Masamba, Ibukota Kabupaten Luwu Utara – Sulawesi Selatan, tibalah rombongan di ibukota kecamatan Limbong.
Kelompok-kelompok rumah terlihat seperti korek api dari bukit yang mengampit lembah hijau ini. Tempat terindah menikmati pemandangan sambil melepas penat.
Perjalanan pun kami lanjutkan,…
Satu jam kemudian, akhirnya kami tiba di kampung Salu Rante. Pedukuhan yang eksekotik dan menawan.
Bukit di belakang, depan dan samping kanan lembah adalah dinding alam yang lestari sepanjang masa. Bukit itu dinamai Paramiang, yang artinya sumber air.
Disamping kanan, sungai Rongkong mengalir deras diantara batu-batu cadas dan tebing-tebing batu alam.
Esok paginya, setelah semalam tertidur pulas….
Seperti biasanya, penduduk Salu Rante memulai aktivitasnya, ada yang pergi ke sawah, ke hutan, atau pun ke kota untuk belanja kebutuhan sehari-hari, dan anak-anak pun ke sekolah dengan jalan kaki.
Saat ini, warga Salu Rante siap-siap panen. Padi mulai menguning, pertanda musim panen segera tiba.
Pedukuhan yang dihuni 30 kepala keluarga ini menempati lembah salu rante dengan luas 25 hektar, dengan 26 buah rumah, 1 tempat ibadah, dan 50 buah lumbung padi.
Diantara desa-desa dan pedukuhan yang sejuk itu, terdapat sebuah perkampungan yang paling ujung dari Kecamatan Limbong, yakni Salu Rante, yang artinya kampung yang terkepung sungai.
Mencapai Salu Rante, membutuhkan waktu tempuh sekitar 6 hingga 8 jam dari Sabbang atau Masamba, ibukota Kabupaten Luwu Utara.
Gunung,… bukit dan lembah mengapit kirin-kanan. Jalan berbatu dan berliku, adalah pemandangan yang tak lazim ketika melewati sejumlah perkampungan menuju Rongkong.
Setelah terantuk-antuk di atas motor selama 8 jam lebih dengan mengambil star di Masamba, Ibukota Kabupaten Luwu Utara – Sulawesi Selatan, tibalah rombongan di ibukota kecamatan Limbong.
Kelompok-kelompok rumah terlihat seperti korek api dari bukit yang mengampit lembah hijau ini. Tempat terindah menikmati pemandangan sambil melepas penat.
Perjalanan pun kami lanjutkan,…
Satu jam kemudian, akhirnya kami tiba di kampung Salu Rante. Pedukuhan yang eksekotik dan menawan.
Bukit di belakang, depan dan samping kanan lembah adalah dinding alam yang lestari sepanjang masa. Bukit itu dinamai Paramiang, yang artinya sumber air.
Disamping kanan, sungai Rongkong mengalir deras diantara batu-batu cadas dan tebing-tebing batu alam.
Esok paginya, setelah semalam tertidur pulas….
Seperti biasanya, penduduk Salu Rante memulai aktivitasnya, ada yang pergi ke sawah, ke hutan, atau pun ke kota untuk belanja kebutuhan sehari-hari, dan anak-anak pun ke sekolah dengan jalan kaki.
Saat ini, warga Salu Rante siap-siap panen. Padi mulai menguning, pertanda musim panen segera tiba.
Pedukuhan yang dihuni 30 kepala keluarga ini menempati lembah salu rante dengan luas 25 hektar, dengan 26 buah rumah, 1 tempat ibadah, dan 50 buah lumbung padi.
Kalotok ; Centra Madu Alam Indonesia
Kelestarian hutan alam bukan hanya berpengaruh langsung terhadap kelangsungan dan kelanggengan bumi Indonesia, malah lebih dari itu, juga berpengaruh kuat terhadap akses ekonomi terhadap masyarakat yang hidup di sekitar hutan-hutan alam.
Salah satu bukti kelanggengan dan masih lestarinya hutan alam Indonesia adalah wilayah adat Kalotok, Kecamatan Sabbang, Kabupaten Luwu Utara Sulawesi Selatan.
Sebagian besar warga Kalotok masih mengandalkan penghasilan bulanannya adalah berburu lebah madu alam (apis dorsata) ke dalam kawasan hutan adat dan hutan lindung yang masih terjaga kelestariannya.
“Jika musim bunga, --dimana bunga pada pohon-pohon di dalam rimba sudah mekar, maka pertanda lebah lagi membuat sarang-sarang pada dahan atau ranting pohon, dan disaat seperti itu, warga tengah bersiap-siap untuk berburu di dalam hutan,” jelas Jalisman, Ketua Kelompok Pengembangan Lebah Madu Alam Kalotok.
Jalisman yang juga anggota Perkumpulan Telapak, --organisasi nirlaba Internasional, mengakui kalau produksi madu masyarakat Kalotok sangat berlimpah, malah kelompok binaannya yang masih terbatas pendanaannya tidak mampu menampung produksi petani lebah madu.
Akibatnya, panen madu lebah tersebut terpaksa dilepas ke pasar bebas, dijual secara eceran. Dia juga mengakui, system penjualan seperti ini tidak banyak menolong petani lebah.
Selain masih kekurangan modal kelompok, Jalisman yang bergabung dengan organisasi JMHI (Jaringan Madu Hutan Indonesia) juga mengakui belum punya pangsa pasar yang tetap. “Sampai saat ini, belum ada perusahaan besar, atau mall, atau pusat perbelanjaan yang memesan langsung ke kami,” katanya.
Olehnya dia berharap, agar jaringan pasar madu alam miliknya mendapat respon positif dari berbagai kalangan, termasuk industri. “Dalam sebulan kami bisa memproduksi minimal satu ton madu alam. Cuma selama ini, kami sengaja tidak menampungnya di kelompok kami, karena produksi tersebut pasti mengendap dan rusak akibat belum adanya pemesanan regular,” katanya.
Di dalam memperkuat mutu produksinya, Jalisman pun memiliki motto, “menggunakan madu alam Kalotok, berarti berpartisipasi langsung terhadap kelestarian hutan alam Luwu Utara”.
Dengan semangat ini, berarti menjadikan Kalotok sebagai sentra pengembangan lebah madu alam Indonesia.
Asli dari Alam
Banyaknya beredar madu alam asli tapi palsu di pasaran regional, termasuk di kota-kota propinsi di Indonesia, membuat Unsar, --pendamping petani madu alam dari Perkumpulan Bumi Saweringan (PBS) memperkuat dan membentuk organisasi petani lebah madu alam.
Tujuannya, menjaga kualitas mutu madu yang betul-betul dari alam (apis dorsata) agar tidak tercampur dengan gula atau zat pewarna lain, mempertahankan kadar airnya.
“Saat ini di Luwu Utara terbentuk 26 kelompok tani madu dari berbagai kelompok-kelompok masyarakat yang hidup di sekitar hutan,” kata Unsar.
Ia mengakui, untuk memperkuat posisi kelompok ini, pihaknya mengadakan kerjasama dengan pemerintah Luwu Utara, Dinas Kehutanan dan Perkebunan. Dengan dinas ini, sudah beberapa kali mengadakan pelatihan kelompok tani, malah dalam tahun ini, Bupati Luwu Utara berjanji akan memberikan modal bantuan kelompok.
Selain kerjasama dengan Pemkab setempat, Unsar juga sering menyertai petani ke beberapa propinsi di Indonesia, baik dalam rangka pertemuan regular organisasi Jaringan Madu Hutan Indonesia, pelatihan, training kualitas mutu, hingga pada pengadaan peralatan teknis uji kualitas air.
Dan salah satu dampak ekonomi terhadap system kunjungan belajar ini adalah terbentuknya beberapa kelompok tani madu, yang dilengkapi sejumlah peralatan pengelolaan madu.
Unsar yang aktivis LSM ini mengakui, bahwa tujuan jangka panjang dengan menggiatkan jaringan petani madu alam Indonesia ini adalah adanya konservasi hutan lewat pengelolaan madu lebah hutan, melestarikan lebah hutan, meningkatkan ekonomi masyarakat, serta mengelola madu lebah hutan secara lestari dan higenis. (s.darampa)
Salah satu bukti kelanggengan dan masih lestarinya hutan alam Indonesia adalah wilayah adat Kalotok, Kecamatan Sabbang, Kabupaten Luwu Utara Sulawesi Selatan.
Sebagian besar warga Kalotok masih mengandalkan penghasilan bulanannya adalah berburu lebah madu alam (apis dorsata) ke dalam kawasan hutan adat dan hutan lindung yang masih terjaga kelestariannya.
“Jika musim bunga, --dimana bunga pada pohon-pohon di dalam rimba sudah mekar, maka pertanda lebah lagi membuat sarang-sarang pada dahan atau ranting pohon, dan disaat seperti itu, warga tengah bersiap-siap untuk berburu di dalam hutan,” jelas Jalisman, Ketua Kelompok Pengembangan Lebah Madu Alam Kalotok.
Jalisman yang juga anggota Perkumpulan Telapak, --organisasi nirlaba Internasional, mengakui kalau produksi madu masyarakat Kalotok sangat berlimpah, malah kelompok binaannya yang masih terbatas pendanaannya tidak mampu menampung produksi petani lebah madu.
Akibatnya, panen madu lebah tersebut terpaksa dilepas ke pasar bebas, dijual secara eceran. Dia juga mengakui, system penjualan seperti ini tidak banyak menolong petani lebah.
Selain masih kekurangan modal kelompok, Jalisman yang bergabung dengan organisasi JMHI (Jaringan Madu Hutan Indonesia) juga mengakui belum punya pangsa pasar yang tetap. “Sampai saat ini, belum ada perusahaan besar, atau mall, atau pusat perbelanjaan yang memesan langsung ke kami,” katanya.
Olehnya dia berharap, agar jaringan pasar madu alam miliknya mendapat respon positif dari berbagai kalangan, termasuk industri. “Dalam sebulan kami bisa memproduksi minimal satu ton madu alam. Cuma selama ini, kami sengaja tidak menampungnya di kelompok kami, karena produksi tersebut pasti mengendap dan rusak akibat belum adanya pemesanan regular,” katanya.
Di dalam memperkuat mutu produksinya, Jalisman pun memiliki motto, “menggunakan madu alam Kalotok, berarti berpartisipasi langsung terhadap kelestarian hutan alam Luwu Utara”.
Dengan semangat ini, berarti menjadikan Kalotok sebagai sentra pengembangan lebah madu alam Indonesia.
Asli dari Alam
Banyaknya beredar madu alam asli tapi palsu di pasaran regional, termasuk di kota-kota propinsi di Indonesia, membuat Unsar, --pendamping petani madu alam dari Perkumpulan Bumi Saweringan (PBS) memperkuat dan membentuk organisasi petani lebah madu alam.
Tujuannya, menjaga kualitas mutu madu yang betul-betul dari alam (apis dorsata) agar tidak tercampur dengan gula atau zat pewarna lain, mempertahankan kadar airnya.
“Saat ini di Luwu Utara terbentuk 26 kelompok tani madu dari berbagai kelompok-kelompok masyarakat yang hidup di sekitar hutan,” kata Unsar.
Ia mengakui, untuk memperkuat posisi kelompok ini, pihaknya mengadakan kerjasama dengan pemerintah Luwu Utara, Dinas Kehutanan dan Perkebunan. Dengan dinas ini, sudah beberapa kali mengadakan pelatihan kelompok tani, malah dalam tahun ini, Bupati Luwu Utara berjanji akan memberikan modal bantuan kelompok.
Selain kerjasama dengan Pemkab setempat, Unsar juga sering menyertai petani ke beberapa propinsi di Indonesia, baik dalam rangka pertemuan regular organisasi Jaringan Madu Hutan Indonesia, pelatihan, training kualitas mutu, hingga pada pengadaan peralatan teknis uji kualitas air.
Dan salah satu dampak ekonomi terhadap system kunjungan belajar ini adalah terbentuknya beberapa kelompok tani madu, yang dilengkapi sejumlah peralatan pengelolaan madu.
Unsar yang aktivis LSM ini mengakui, bahwa tujuan jangka panjang dengan menggiatkan jaringan petani madu alam Indonesia ini adalah adanya konservasi hutan lewat pengelolaan madu lebah hutan, melestarikan lebah hutan, meningkatkan ekonomi masyarakat, serta mengelola madu lebah hutan secara lestari dan higenis. (s.darampa)
Indahnya Laut Sagori
Pesona objek wisata di kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, tidak kalah menarik dengan daerah lain di Indonesia. Salah satu objek wisata itu adalah Pulau Sagori. Pasir putih di tempat ini begitu memesona. Deburan ombak, serta kekayaan laut yang dimilikinya menjadi surga bagi wisatawan yang datang ke tempat itu. Karena itu sangat beralasan jika Bupati Bombana sangat optimistis, Pulau Sagori nantinya akan banyak dikunjungi wisatawan dunia.
Kawasan Wisata Bahari Sagori ini terletak di bagian timur kota Bombana. Untuk ketempat ini membutuhkan waktu sekitar 2 jam dengan menggunakan kapal superjet, tetapi jika berangkat dari Sikeli, Kecematan Kabaena Barat, hanya di tempuh kurang lebih 20 menit saja.
Eloknya hamparan pasir putih Pulau Sagori serta indahnya terumbu karang dan beragamnya biota laut tentu menjadi incaran para penggemar diving. Karena itu pula, Pemerintah Kabupaten Bombana gencar mempromosikan potensi wisata ini ke luar daerah.
“Pemkab Bombana tidak pernah berhenti mempromosikan Sagori ke luar daerah. Tujuannya agar wisatawan datang ke kawasan ini. Kami memang berharap, tidak hanya wisatawan local yang datang, tetapi juga wisatawan asing,” tutur Bupati Bombana, Dr H Atikurahman MS.
Diakui Atikurahman, pihaknya masih terus berupaya membuat objek Wisata Sagori lebih menarik dengan melibatkan masyarakat setempat. Dan terbukti, masyarakat setempat secara swadaya ikut menata kawasan ini dengan menanam pohon pelindung, dengan harapan setiap pengunjung lebih betah menikmati indahnya pulau ini.
Meski sarana dan prasarana wisata di Sagori tidak selengkap objek wisata lain di Indonesia, namun pulau yang memesona ini memiliki magnet yang membuat pengunjung merasa nyaman untuk tinggal berlama-lama. Panorama laut serta masakan khas yang lezat yang disuguhkan di tempat ini begitu terasa nikmat.
“Kami memang tengah perupaya untuk memberi layanan terbaik kepada setiap wisatawan yang datang. Di tempat ini banyak sekali makanan yang lezat, bahkan ada kuliner tradisional, seperti dampo, gula kelapa dan lainnya yang bisa dibawa pulang,” papar Atikurahman.
Selain memiliki pesona alam yang begitu indah, Pulau Sagori ternyata memiliki cerita lain. Pulau ini pernah dijadikan sebagai persinggahan armada Belanda yang dipimpin Peter Bot, ketika menyerang Sultan Buton di masa lalu. Sebagai bukti, di pulau ini ditemukan tiga bangkai kapal milik VOC yang bisa dilihat dan diamati,” tutur Atikurahman.
Menyikapi potensi wisata yang dimiliki Kabupaten Bombana, Atikurahman sangat berharap ada investor yang tertarik untuk menanamkan modalnya di pulau ini.
“Pemerintah Bombana tetap berkomitmen untuk terus mendukung kegiatan investasi di sektor pariwisata. Karena kemajuan suatu daerah sangat terkait dengan pariwisatanya. Artinya daerah itu dikenal dan terkenal di dunia lantaran memiliki objek wisata yang menarik,” terangnya. Nining.
Mendulang Investasi Bombana
Kabupaten Bombana secara kewilayahan terdiri atas daratan seluas kurang lebih 2.929,69 km dan laut sekitar 11.837,31 km. Dengan kondisi tersebut, potensi sumberdaya kelautan memiliki peluang investasi yang cukup signifikan.
Hasil perikanan Kabupaten Bombana mampu memenuhi kebutuhan, baik untuk masyarakat lokal maupun ekspor. Berbagai jenis hasil produksi perikanan, khususnya untuk komoditi ekspor, antara lain ikan sunu, kerapu, kakap, baronang, lobster, cumi-cumi, benur, rumput laut, dan kerang-kerangan.
Secara ekonomis, peluang investasi pada sektor perikanan masih terbuka dan memiliki prospek untuk dikembangkan di masa mendatang. Peluang investasi dimaksud meliputi :
a. Budidaya Tambak
Areal pertambakan Kabupaten Bombana tersebar dan diusahakan di 7 (tujuh) wilayah kecamatan. Produksi tambak merupakan salah satu sektor dalam bidang pertanian penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) maupun terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang cukup signifikan.
Untuk menjangkau desa-desa produsen tersebut dapat diakses dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat.
b. Budidaya Mutiara
Budidaya mutiara di Desa Sikeli, Kecamatan Kabaena, masih dilakukan secara perseorangan. Dilihat dari kondisi salinitas maupun aspek-aspek lainnya, Kecamatan Kabaena sangat ideal dan potensial untuk pengembangan budidaya mutiara, baik jenis mutiara bundar (Mound Pearl) maupun jenis mutiara blister (Half Pearl).
c. Budidaya Rumput Laut
Sama halnya budidaya mutiara, budidaya rumput laut pun di Kabupaten Bombana masih diusahakan secara perorangan. Kondisi perairan yang belum terkontaminasi oleh pencemaran tentunya memiliki prospek pengembangan budidaya rumput laut secara besar-besaran dengan sentuhan teknologi tepat guna.
Hasil rumput laut yang dihasilkan masyarakat desa pesisir (Desa Batulamburi, Masaloka, Pulo Tambako) dipasarkan melalui pengusaha local. Produk yang dihasilkan adalah bentuk gelondongan dan dipasarkan ke kota Bau-Bau dan Kendari.
Pertanian
Potensi lain yang tak kalah pentingnya adalah di bidang pertanian. Seperti diketahui, Kabupaten Bombana merupakan salah satu daerah lumbung padi di Provinsi Sulawesi Tenggara. Luas lahan sawah 7.688 Ha, dengan produksi 424.204 kw gabah kering giling per tahun atau senilai Rp 76.356.720.000.
Peluang pengembangan dan pemanfaatan lahan pertanian padi sawah di daerah ini masih sangat terbuka karena lahan pengembangan persawahan 25.559 Ha. Ekstensifikasi dan intensifikasi dengan sentuhan teknologi tepat guna merupakan ruang investasi yang didambakan masyarakat Kabupaten Bombana.
Pertambangan
Di bidang pertambangan, potensi tambang Kabupaten Bombana tersebar di beberapa desa dan kecamatan. Jenis-jenis tambang yang memiliki potensi sangat besar antara lain marmer, batu permata, nikel, pasir kwarsa, batu gamping, dan tanah liat/lempung.
Potensi yang sangat besar tersebut belum dieksploitasi secara optimal sehingga terbuka peluang investasi di bidang pertambangan yang memiliki nilai ekonomis cukup prospektif.
Lokasi tambang marmer, batu permata, dan nikel dapat dijangkau dari ibukota kabupaten dengan Super Jet selama kurang lebih 2 jam pelayaran ke Sikeli. Selanjutnya untuk mencapai lokasi tambang di Desa Lengora dan Enano (Kabaena Timur) serta Desa Rahadopi, Pongkalaero, dan Batu Awu di Kecamatan Kabaena dapat menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat.
Sedangkan lokasi tambang pasir kwarsa, batu gamping dan tanah liat/lempung dapat diakses dari ibukota kabupaten dengan kendaraan roda dua maupun roda empat dengan lama perjalanan 1 sampai 2 jam.
Beberapa perusahaan tercatat telah melakukan eksploitasi dan penguasaan lahan terhadap jenis-jenis pertambangan tertentu. Teks Nining.
Hasil perikanan Kabupaten Bombana mampu memenuhi kebutuhan, baik untuk masyarakat lokal maupun ekspor. Berbagai jenis hasil produksi perikanan, khususnya untuk komoditi ekspor, antara lain ikan sunu, kerapu, kakap, baronang, lobster, cumi-cumi, benur, rumput laut, dan kerang-kerangan.
Secara ekonomis, peluang investasi pada sektor perikanan masih terbuka dan memiliki prospek untuk dikembangkan di masa mendatang. Peluang investasi dimaksud meliputi :
a. Budidaya Tambak
Areal pertambakan Kabupaten Bombana tersebar dan diusahakan di 7 (tujuh) wilayah kecamatan. Produksi tambak merupakan salah satu sektor dalam bidang pertanian penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) maupun terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang cukup signifikan.
Untuk menjangkau desa-desa produsen tersebut dapat diakses dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat.
b. Budidaya Mutiara
Budidaya mutiara di Desa Sikeli, Kecamatan Kabaena, masih dilakukan secara perseorangan. Dilihat dari kondisi salinitas maupun aspek-aspek lainnya, Kecamatan Kabaena sangat ideal dan potensial untuk pengembangan budidaya mutiara, baik jenis mutiara bundar (Mound Pearl) maupun jenis mutiara blister (Half Pearl).
c. Budidaya Rumput Laut
Sama halnya budidaya mutiara, budidaya rumput laut pun di Kabupaten Bombana masih diusahakan secara perorangan. Kondisi perairan yang belum terkontaminasi oleh pencemaran tentunya memiliki prospek pengembangan budidaya rumput laut secara besar-besaran dengan sentuhan teknologi tepat guna.
Hasil rumput laut yang dihasilkan masyarakat desa pesisir (Desa Batulamburi, Masaloka, Pulo Tambako) dipasarkan melalui pengusaha local. Produk yang dihasilkan adalah bentuk gelondongan dan dipasarkan ke kota Bau-Bau dan Kendari.
Pertanian
Potensi lain yang tak kalah pentingnya adalah di bidang pertanian. Seperti diketahui, Kabupaten Bombana merupakan salah satu daerah lumbung padi di Provinsi Sulawesi Tenggara. Luas lahan sawah 7.688 Ha, dengan produksi 424.204 kw gabah kering giling per tahun atau senilai Rp 76.356.720.000.
Peluang pengembangan dan pemanfaatan lahan pertanian padi sawah di daerah ini masih sangat terbuka karena lahan pengembangan persawahan 25.559 Ha. Ekstensifikasi dan intensifikasi dengan sentuhan teknologi tepat guna merupakan ruang investasi yang didambakan masyarakat Kabupaten Bombana.
Pertambangan
Di bidang pertambangan, potensi tambang Kabupaten Bombana tersebar di beberapa desa dan kecamatan. Jenis-jenis tambang yang memiliki potensi sangat besar antara lain marmer, batu permata, nikel, pasir kwarsa, batu gamping, dan tanah liat/lempung.
Potensi yang sangat besar tersebut belum dieksploitasi secara optimal sehingga terbuka peluang investasi di bidang pertambangan yang memiliki nilai ekonomis cukup prospektif.
Lokasi tambang marmer, batu permata, dan nikel dapat dijangkau dari ibukota kabupaten dengan Super Jet selama kurang lebih 2 jam pelayaran ke Sikeli. Selanjutnya untuk mencapai lokasi tambang di Desa Lengora dan Enano (Kabaena Timur) serta Desa Rahadopi, Pongkalaero, dan Batu Awu di Kecamatan Kabaena dapat menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat.
Sedangkan lokasi tambang pasir kwarsa, batu gamping dan tanah liat/lempung dapat diakses dari ibukota kabupaten dengan kendaraan roda dua maupun roda empat dengan lama perjalanan 1 sampai 2 jam.
Beberapa perusahaan tercatat telah melakukan eksploitasi dan penguasaan lahan terhadap jenis-jenis pertambangan tertentu. Teks Nining.
Langganan:
Postingan (Atom)



